Antara Saya, Wanita, dan Kue Apem

“Wanita dan Kue Apem”
Terbit Mei 2009
Launching Desember 2010
Segarnya udara pagi ini berubah menjadi panas. Semua teman sekelas Sinta di kelas X* SMAN 7 Bjm gempar. Ternyata ga cuma aku yang dapat SMS dari Sinta. Danu, Dodo, dan teman-teman yang lain juga menerima SMS beautifulsick-nya Sinta. Yang lebih heboh lagi, Sinta benar-benar berubah. Bajunya yang dulu sopan, sekarang entah ke mana, dia justru pake baju adiknya yang masih kelas 4 SD, kerudungnya juga ilang. Kalau ditanya kenapa, dia bilang “Buat apa nutup-nutupin ketombe, jangan ditutupin, tapi diilangin” katanya meniru gaya iklan di TV.


Sebenarnya itu semua dilakukan Sinta bukan karena penentangannya terhadap aturan Allah. Semua itu dilakukannya karena ketidak-tahuan. Mungkin Sinta masih belum tahu batas-batas aurat wanita, dan bagaimana pergaulannya dengan lawan jenisnya. Apalagi saat ini aktivitas seperti itu didukung penuh oleh media massa. Begitulah, media massa bisa membuat orang yang baik menjadi jahat, sebaliknya ada juga media massa yang menyeru orang jahat menjadi baik, dan orang baik menjadi lebih baik lagi.
“Maa Syaa Allah…” aku cuma bisa mengurut dada. Danu dan Dodo tidak henti-hentinya ber-istighfar. Ada apa dengan dikau, Sin?
Suasana pagi yang tak nyaman. Selain Sinta, ada empat orang siswi lainnya yang mempertontonkan auratnya dengan gratis bagi siapa saja. Sungguh memuakkan. Meski bagi sebagian siswa, ini semua adalah karya seni yang mahal harganya. Tapi ini adalah kemunkaran! Bagi yang mampu, hentikan dengan tangannya. Tapi sayangnya, saat ini semuanya hanya berani mengingkari dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.
Untuk mencairkan suasana yang beku, aku ngajak Danu dan Dodo main tebak-tebakan.
“Ogaaaahhhh…” Teriak keduanya kompak. Suasana kayak gini ngajak tebak-tebakan “Biariiinn…!” meski ga dapat respon dari temen-temen, aku tetep aja dengan semangat 45 mengeluarkan tebak-tebakan andalanku. Hitung-hitung sambil nunggu guru.
“Gajah apa yang kakinya empat? Nah, bingung kan? Apalagi Danu, pasti kamu gak bakal tau Nu,” aku mencoba memancing emosi Danu.
“Gajah apaan yang kakinya empat?” Akhirnya Danu yang tadi cuek, nyeletuk juga.
“Gajah yang kakinya empat?” Kali ini Dodo yang nyeletuk.
Setelah yakin ga ada yang bisa jawab, terpaksa kubocorkan jawabannya.
“Gajah yang kakinya empat ya gajah normal! Payah!”
Tawa Danu dan Dodo menggeledek. Tapi buru-buru ditutup. Astagfirullah kelepasan. Sebagian siswa yang duduk tak jauh dari kami ikut tersenyum mendengar kekonyolan kami. Selain dikenal sebagai aktivis siswa Muslim, kami juga dikenal sebagai siswa yang kocak.
Merasa diperhatikan oleh yang lain, ga cuma Dodo dan Danu, aku melancarkan tebakan lagi sama temen-temen. Kali ini dengan suara lebih keras, biar yang lain bisa dengar juga.
“Eh temen-temen, kue apa yang bungkusnya di dalem?!!!”
“Dim, yang namanya kue di mana-mana bungkusnya di luar, gimana sih?” sahut Danu sewot..
“Aku tau jawabannya” Dodo yang sedikit lebih pintar dibanding Danu berdiri seraya mengacungkan telunjuknya.
“Apaan?” tantangku
“Kue yang bungkusnya di dalam itu…kue salah bikin kan, Dim?!”
Aku mengangguk membenarkan.
“Yesss..berhasil!” Dodo senang banget bisa menjawab tebak-tebakanku. Jarang banget loh. Tinggallah Danu yang terpekur dalam, merenungi kekalahannya.
“Kacciaaaan deh lo” Ejek Dodo sambil menari-narikan telunjuknya di depan idung Danu. Danu segera menangkap telunjuk Dodo dan memuntirnya.
“Waddaww!” Pekik Dodo kesakitan. He…he…rasain. Danu tertawa.

Sudah jam delapan lewat lima belas menit, tapi Bu Aisyah yang hari ini mengajar Aljabar Linier masih belum juga keliatan batang hidungnya. Masih ada kesempatan.
“Ngomong-ngomong soal kue nih, aku punya cerita loh.., mau kan ?
“Gak mauuuu..” teriak Panji yang duduk di pojok belakang. Dasar Panji! Duduknya deket cewek melulu. Ya Allah…
“Hah..gak mau? Biarin! yang penting aku mau cerita. Gini, kamu percaya gak kalau cewek itu bisa kita ibaratin kue…?”
“Ah…Masa” tanpa sadar Nova nyeletuk. Mulutnya membulat kebingungan.
“Iya… Gini, kue ada banyak macamnya, dari kue yang levelan rendah sampai yang levelan tinggi. Pernah liat kue apem?” telunjukku mengarah kehidung Panji yang duduk di sebelah Nova.
“Nah, kalian tau kan kue apem itu gimana nasibnya? Dijual di sembarang tempat, dibolak-balik, dicolak colek, terus kadang-kadang sering ada bumbu tambahannya, lalat! Yang beli juga dari kalangan rendahan. Nah, coba kita bandingin sama kue yang levelnya tinggi. Ditaruh di etalase yang bebas lalat, yang bisa beli juga bukan orang sembarangan. Cuma orang-orang tertentu yang bisa beli kue itu. Nah, cewek juga gitu. Ada yang kelas rendahan, untuk cewek kelas ini, siapa aja bisa dapat, gak terawat, auratnya gak ditutup, pokoknya semua tangan bisa meraba, membolak balik, mencolak colek. Bahkan, kalau dibawa ke kantor polisi untuk mengetahui sidik jari, bakalan ditemukan banyak sekali sidik jari di tubuh cewek seperti ini. Berbeda dengan cewek yang menjaga harga dirinya dengan menutup aurat dan pandangannya. Jenis cewek kayak gini masih langka banget, gak semua orang bisa dapat cewek kayak begini. Sterilitasnya terjamin, gak ada yang bisa menyentuhnya selain suaminya. Jadi, sekarang para cewek tinggal milih, mau jadi cewek yang sekelas kue apem atau yang dipajang di etalase-etalase restoran? Gampang kan?”
“Dapaaaat…” Tiba-tiba Danu berteriak.
“Dapat apaan, Nu” tanya Dodo.
“Upil!” Jawab Danu santai sambil menggulung upil sebesar jempol bayi.

“Uh…jorok kamu!” Jitakan Dodo mampir di jidat Danu. Rasain!
Melihat kelakuan mereka, aku jadi gemes sendiri.
“Hey! Kalian paham gak sih ceritaku!!!?”
Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Danu dan Dodo menjawab lemas “Enggaaaaakk…”
“Huh payah, kalian”
Tapi ada seorang gadis yang tidak ikut geleng-geleng kepala. Wajahnya tertunduk. Terdengar sesenggukan dari arahnya, Air matanya membasahi meja belajarnya dan mengalir ke pahanya yang terbuka. Dialah Sinta, yang konon kena penyakit cantik turunan.
Aku, Danu dan Dodo saling berpandangan penuh arti, ”Alhamdulillah…” Kompak kami mengucap syukur. Lega deh, satu tugas wajib telah selesai. Menyeru yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.
Selang beberapa menit, Bu Aisyah datang dengan setumpuk buku modul dua bahasa di pelukannya. Suasana hening seketika, membuat langkah kaki Bu Aisyah terdengar jelas di telinga.

“Selamat pagi”, Guru berkacamata besar itu membuka kegiatan belajar.
Dhut……
Tanpa bisa ditahan, suara merdu itu keluar dari pantat Danu.

About Najmi Wahyughifary

Make a better civilization

Posted on December 24, 2010, in Tulisan. Bookmark the permalink. 7 Comments.

  1. ih,, keren cuy !!!

    i like it….

  2. nice share gan!
    ijin bookmark dulu yah

  3. Ya …Silahkan…Semoga bermanfaat…dan bikin para cewek-cewek pada sadar…Apakah mereka semurah kue apem ???

  4. interesting and very unique
    significant writings

  5. Yup. Tulisannya sangat menarik dan mempesona.

  6. Syukran….But to look beyond the glory is the hardest part.For a hero’s strength is measured by his heart.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: