Kenapa Harus Ijul ?

          Sudah lama pesantren ini kehilangan sosok pemimpin yang luar biasa yang mampu mengayomi, membina, menuntun, serta menjadi tauladan bagi santri-santri di lingkungan pesantren. Sudah lama sosok ini dirindukan kehadiran sosok penggantinya yang mampu menjadi represantasi dari sosok Abah yang telah luar biasanya memimpin pesantren ini. Sosok bijak, ramah, terbuka, tegas, serta penyayangnya kini telah lenyap di makan waktu, beliau sudah meninggalkan dunia ini. Sosok penggantipun diharapkan bisa tercipta dalam lingkungan pesantren ini. Sepeninggal Abah, Ummi terus dilanda kebingungan dan kehilangan akan sebuah sosok yang luar biasa. Ummi hanya bisa tersenyum dengan semua yang telah terjadi. Sosok Ijul dan Nabila, dua anak kesayangan Ummi yang diharapkan bisa menjadi penghibur dan penyemangat dalam hidupnya. Ijul sudah mulai umur 5 tahun di didik di pesantren ini dengan disiplin Abah yang sangat kuat. Ijul mulai beranjak dewasa dan hampir beberapa tahun menjadi santri yang setia menuntut mulianya ilmu di pesantren dengan sosok Abah sebagai tentor setianya. Nabila pun saat itu masih sangat kecil, Nabila dan Ijul memiliki selisih umur yang cukup jauh, yaitu 7 tahun.

         Ijul mengalami masa-masa sulit dan dilema dalam kehidupannya sepeninggal Abah yang setia menjadi tentor yang menakutkan bagi Ijul di masa-masa kejayaan Abah dalam memimpin dan membentuk karakter pemimpin bagi santri-santri di pesantren. Ijul merasa posisi tertekannya selama dalam pendidikan Abah yang dianggapnya sebagai penjara nyata dalam hidupnya. Muncul jiwa Ijul yang ingin bebas dan tidak ingin terikat dengan kehidupan disiplin khas pesantren yang telah Abah tanamkan dan kokohkan dalam kehidupan santri, termasuk Ijul. Memang wajar, Ijul telah mengalami masa-masa diam dalam penolakannya terhadap Abah, sepeninggalnya Abah, kesedihan akan kehilangan sosok pemimpin dalam pesantren begitu kuatnya muncul dalam setiap jiwa warga pesantren, terkecuali Ijul. Dalam hati Ijul, muncul sebuah luapan ekspresi kebebasan setelah sepeningalnya Abah. Sosok Abah selama ini yang dianggap Ijul sebagai pengukung kebebasan Ijul dalam hidupnya, kini telah tiada lagi.

Pikiran Ijul melayang, membayangkan seluruh angan-angan yang ia impikan sejak dulu yang selalu ditentang oleh Abah, yaitu gemerlapnya kehidupan kota. Kehidupan kota, yang jauh dari nuansa disiplin khas pesantren, kehidupan yang keras, keterikatan akan peraturan, kehidupan yang dianggap Ijul sebagai kehidupan yang kolot serta membosankan, kehidupan yang dianggap Ijul sebagai penumpukan-penumpukan kejenuhan yang membebankan pikiran bebasnya. Ada apa dengan Ijul ? Ijul menjadi sosok yang jauh dari harapan keluarga besar pesantren khususnya, Abah dan Ummi. Sosok Ijul yang nanti diharapkan menjadi pengganti sosok Abah yang telah gigihnya dan kuatnya dalam memimpin pesantren demi membentuk karakter dan jiwa santri yang kuat mulai pupus. Ijul telah berubah, pemahamannya akan kehidupan pesantren yang kuno dan kolot telah meracuni pemikirannya. Kala itu pun, Ijul memilih sebuah keputusan yang sangat besar dan mencengangkan. Sudah tiga tahun sepeninggal sosok Abah, Ijul mencoba bertahan dalam kehidupan pesantren dalam waktu tersebut.

Ijul malam itu mempersiapkan sebuah pilihan yang diyakini akan menjadi tonggak perubahan dalam hidupnya, yaitu sebuah pilihan untuk melarikan diri dari pesantren untuk pergi ke kota. Ijul tak memperdulikan Ummi, Nabila, bahkan pesantren yang merupakan warisan terbesar dan paling berharga dari Abah. Ijul yakin, kehidupan kota jauh lebih menarik, mengasyikkan, modern, indah dan lebih menjanjikan daripada kehidupan pesantren yang dianggapnya kolot dan kuno, yang tak peduli dengan kemajuan pada masyarakat luasnya. Pikiran Ijul terus meraba-raba, melihat, serta menerawang kehidupan kota yang begitu menjanjikan baginya. Keputusan besar telah diambil oleh Ijul. Malam itu Ijul berhasil kabur dari pesantren dan membawa sejumlah uang dan perhiasan Ummi yang dicurinya untuk bekal menuju kota. Paginya, situasi pesantren menjadi ribut, Ummi histeris dan menangis, Ijul kabur dari pesantren. Semua warga pesantren heboh, tak terkecuali Ustadz Munzir, yang selalu setia menjadi sosok pemimpin dalam pesantren setelah sepeninggalnya Abah. Harapan Ummi, Ustadz Munzir, serta warga pesantren lainnya akan sosok Ijul yang mampu menjadi pengganti Abah telah hilang. Akhirnya, beberapa orang diutus untuk mencari Ijul.

Banyak kesulitan yang dialami dalam proses pencarian Ijul. Beberapa kali Ijul berhasil ditemukan, tapi Ijul terus mengelak dan menajauhkan dirinya. Hal ini terus-menerus terjadi, Ijul tak kunjung tergerak hatinya untuk merubah pilihannya. Waktu terus bergulir, roda kehidupan pesantren terus bergerak maju, walau telah banyak kehilangan sosok di dalamnya. Sudah lima tahun, sejak kaburnya Ijul dalam pesantren kondisi Ummi sakit-sakitan. Dalam kondisi ini, Ummi memutuskan untuk menuliskan surat untuk Ijul dan meminta Nabila untuk menyerahkannya dan menemui kakanya tersebut.

Perjalanan besar Nabila pun di mulai, adik perempuan kecilnya Ijul yang dianggapnya hanya bocah ingusan yang tak paham apa-apa. Namun, kini sosok sang adik muncul dan hadir dalam kehidupan Ijul.

“Jul, pulanglah nak, pesantren membutuhkanmu……”, begitu nada kalimat dalam surat itu. Ijul tersenyum kecut. Diremas-remasnya kertas lusuh yang ada di genggaman kirinya itu. Sementara tangan kanannya asyik memainkan batang rokok yang masih menyala. Asap segar sesekali tersembul dari lubang hidungnya.

Ka, Ummi wahini gagaringan. Sidin handak banar batamu pian”, Nabila, adiknya mendesak. Ijul hanya nyengir. Ingin rasanya dia menjitak batok kepala adiknya itu. Menjewer kupingnya. Lalu tertawa keras-keras, seperti yang biasa ia lakukan pada si Nabila kecil yang manja dulu. Tapi kini, bahkan dia merasa asing pada gadis yang ada di hadapannya itu. Betapa waktu 10 tahun telah menciptakan jarak lebar antara mereka berdua. Anak ingusan itu kini telah menjelma menjadi gadis anggun berpakaian terusan longgar dan berkerudung yang rapi menutup rambutnya. Adik semata wayangnya itu kini tumbuh menjadi gadis shalihah. Beda jauh dengan dirinya. Pemuda urakan yang hidupnya hancur tidak karu-karuan.

Ummi titip ini gasan pian, nang Ummi simpan bertahun-tahun gasan pian sepeninggal Abah, ini benda peninggalan Abah “, ucap Nabila lagi seraya menyerahkan sebilah rotan tua berukuran dua jengkal dengan kedua ujungnya yang lancip. Kali ini Ijul terkesiap. Wajahnya seketika pucat pasi. Direbutnya dengan kasar benda itu dari genggaman adiknya. Rokok yang masih separuh bergegas ia matikan. Ditimang-timangnya benda kecil itu. Ijul hapal persis tiap sisi dari benda itu. Tulisan-tulisan arab yang terukir di sisi-sisinya. Tidak ada yang berubah. Hanya catnya yang sudah terkelupas termakan usia. Benda itu begitu akrab dengan dirinya. Benda yang biasa ia pakai untuk belajar Al-Qur’an sewaktu kecil. Dengan benda itu jualah Abah sering memukul pantatnya sebagai hukuman atas kenakalannya. Dan kini setelah 10 tahun berlalu, tiba-tiba Ijul kembali merasakan pukulan-pukulan itu. Lebih menyakitkan. Bilah rotan itu seakan berubah wujud menjadi godam raksasa yang menghantam kepalanya. Bertubi-tubi datangnya seolah menghukumnya atas segala yang diperbuatnya selama 10 tahun ini. Ijul meringis.

Tangan Ijul masih memegang erat benda itu. Matanya memandang lurus ke depan. Kosong. Tak dihiraukannya ocehan adiknya yang bercerita tentang kampungnya yang sudah banyak berubah, tentang santri-santri pesantren yng semakin berkurang, tentang Ummi yang kondisi kesehatannya makin menurun. Ijul hanya sesekali mengangguk menanggapi cerita adiknya itu. Pikirannya jauh menerawang. Tabir kenangan lama yang sudah lama dibuangnya, hari ini entah kenapa tiba-tiba muncul kembali. Deretan adegan hidupnya tampak sangat jelas di matanya. Bayangan pesantren As-Syuhada yang sejuk di kaki pegunungan Meratus. Para santrinya yang memakai baju putih-putih dan berkain sarung. Kerutan-kerutan di wajah Abahnya, tatapan teduh Ummi.

Ijul ingat persis kejadian di malam itu. Ketika dia mengendap-endap keluar dari lingkungan pesantren yang telah memenjarakan dirinya. Malam itu tekadnya begitu bulat. Pergi jauh dari pesantren dan tak akan lagi kembali ke sana. Mungkin untuk selama-lamanya. Sebagai putra dari pimpinan pondok pesantren, Ijul selalu ditekankan Abahnya untuk menggantikan posisi pimpinan pondok pesantren kelak. Mengikuti jejak dirinya dan kakeknya yang pertama kali mendirikan pondok ini. ‘Da’wah adalah jalan hidup kita’ itulah yang terus diwejangkan oleh Abah. Petuah tentang surga neraka, tentang bahagia yang kekal di akhirat dan kebahagiaan semu di dunia. Dan Ijul telah menentukan jalan hidupnya sendiri. Dia lebih memilih pilihan kedua. Malam itu ditanggalkannya seluruh atribut pesantren. Dimulainya jejak langkah baru di kota yang selama ini diidam-idamkannya, Banjarmasin dengan segala mimpinya. Walaupun akhirnya dia harus menelan pil pahit. Terdampar di emperan-emperan toko, mengais-ngais makanan di bak sampah, dan akhirnya dia harus puas diterima bekerja sebagai kuli barang di pelabuhan. Pekerjaan yang membuat tangan mulusnya berubah menjadi kasar terkelupas di sana-sini. Namun Ijul merasa itu jauh lebih baik daripada kehidupan berbau surga di pesantren. Segala maksiat di kota hampir semuanya sudah dirasainya, judi, togel, komplek pelacuran, minuman keras, menjambret, memalak. Semuanya ia lakukan tanpa rasa berdosa sedikitpun. Dan hari ini setelah semua yang dilakukannya itu, tiba-tiba adiknya datang untuk mengajaknya kembali.

……………………………………………

Besok harinya, Ijul bermain kartu di depan pos kamling pelabuhan. Adiknya ditinggal sendiri di rumah dengan perasaan kesal dan berbagai amarah dengan berbagai masalah dan problematika kehidupannya.

“Balak anam!” Udin menghempas keras kartu domino yang ada di tangannya. Senyum lebar tersungging di bibirnya. “Nyawa kalah lagi Jul ai, bayar taruhannya!”, ejeknya seraya menodongkan tangannya pada Ijul. Ijul menggerutu, dengan gusar dikeluarkannya uang sepuluh ribuan lecet dari kantong jinsnya. Ragu-ragu dia menyerahkan uang itu ke tangan Udin. Habis sudah upah ngulinya selama sebulan. Entah bakal makan apa nantinya ia lima hari ke depan.

Malam ini sedikitpun Ijul tak bisa konsentrasi pada permainannya. Tangan-tangannya yang biasa lincah memainkan domino kini seperti kehilangan keterampilannya. Sejak kedatangan adiknya pagi tadi bayangan sang Abah tak henti-henti bersarang di benaknya. Seolah bayangan itu selalu menyertainya di tiap langkah, bicara, tiap apapun yang dia lakukan. Sudah berapa kali dia mencoba membuang pikiran itu. Namun bayangan itu selalu muncul kembali. Aneh, padahal selama 10 tahun ini, bahkan sedikitpun wajah ayah tidak pernah terbersit di benaknya, walau dalam mimpi sekalipun.

“Main tarus!!”, ucap Ijul sambil mengocok domino yang tadinya berserakan. Kawan-kawannya saling berpandangan. “Duit nyawa habis kalo sudah?”, Amang bertanya heran.

Pokoknya tarus! Bagian nyawa takutan kalah kah?”, Ijul menggertak. Kawan-kawannya hanya mengernyitkan dahi.

“Judi itu perbuatan syaitan! Haram!”, tiba-tiba suara keras bergema memenuhi rongga telinga Ijul. Ijul terhenyak. Suara itu……..Itu suara Abah! Tapi mana mungkin! Bukankah Abah berada jauh ratusan kilometer disana.

“Haram!!”, suara itu muncul lagi. Ijul memandang ke sekeliling, mencoba mencari sumber suara. Namun nihil.

“Haram!!!”, suara itu makin keras dan bertubi-tubi munculnya. Keringat dingin memenuhi sekujur tubuhnya. Kartu domino berjatuhan ke tanah.

“Haram!!!”, sekali lagi suara itu menampar gendang telinganya.

“Aaaghhh!!”, Ijul berteriak keras sambil mencengkeram kepalanya. tubuhnya bergetar. Sementara suara itu terus saja muncul. Tak tahan Ijul bangkit berdiri dan kemudian berjalan-jalan terhuyung-huyung. Tak dipedulikannya panggilan teman-temannya. Dia terus berjalan hingga akhirnya perlahan suara itu lenyap.

Ijul merasa lega namun tetap dalam ketidakmengertiannya, selama ini tak ada seorangpun yang berani menegur perbuatan bejatnya, tidak teman-temannya, tidak para atasannya, bahkan para kiai yang sok suci itu sekalipun. Namun hari ini Abah tiba-tiba muncul mengahantui dirinya. Apa ini karena kedatangan adiknya, ataukah Abahnya sudah begitu sakti sehingga bisa mengetahui apa yang dia perbuat dari jarak jauh. Atau ?

Beribu pertanyaan muncul dalam benak Ijul, tiba-tiba dia teringat sesuatu. “Ya, barang itu! Pasti gara-gara barang itu!”, Ijul menjerit dalam hati. Dirogohnya benda yang dia selipkan di belakang celananya. Tidak tahu kenapa sejak menerimanya dari adiknya, bilah rotan itu tidak dia lepas-lepaskan. Selalu dibawa-bawanya.

“Benda keparat!”, maki Ijul. Tangannya mengambil aba-aba untuk melemparkan benda itu jauh-jauh. Namun tiba-tiba niat itu diurungkannya kembali. Ada perasaan yang Ijul sendiri tidak paham yang diakibatkan oleh benda itu sehingga dia enggan mencampakkannya.

Ijul mencoba menenangkan kegelisahannya. Disimpannya kembali bilah rotan itu ke dalam celana jinsnya. Malaga yang dibelinya siang tadi masih ada setengah. Direguknya perlahan air keras itu dan dibiarkannya  membasahi tenggorokan. Ijul merasa pikirannya melayang-layang, Ia merasa lebih tenang. Namun tiba-tiba..

“Minuman syaitan. Haram!!”, suara itu muncul kembali. Ijul terperanjat sehingga air yang ada di mulutnya tumpah keluar.

“Haram!!”, suara itu terulang nyaring. Ijul mencoba menutup telinganya rapat. “Persetan!”, maki Ijul keras. Kali ini dia mencoba tak menghiraukan suara-suara itu. Ditenggaknya lagi minuman itu. Namun mendadak tubuhnya bergetar keras. Tangannya terasa lemah.

“Haram!!!”, suara itu makin keras. Dan tiba-tiba botol malaga yang ada di tangannya terlepas dan pecah berkeping-keping. Berangsur-angsur suara itu menghilang kembali.

“Bangsaaatt!!”, teriak Ijul memecah keheningan malam itu. Dirogohnya kembali bilah rotan tadi. Pandangannya beringas. Diluapkannya emosi pada benda itu. Dan bilah rotan itu akhirnya patah menjadi dua. Namun bayangan sang Abah tetap tak kunjung menghilang

…………………………

Ijul ingat kalau masih menyimpan satu botol malaga lagi di lemari makannya. Dengan sempoyongan ia berjalan menuju gubuknya. Di larut malam seperti ini gubuk reot itu masih tampak terang. Di ruang tengah lampu petromak masih menyala. Rupanya adiknya belum tidur.

Didapatinya Nabila, adiknya sedang khusyuk dalam ibadah qiyamullail. Ijul meringis. Entah kenapa dia kini begitu benci melihat orang shalat. Dia sendiri sudah lupa entah berapa tahun keningnya tidak lagi menyentuh tempat sujud. Bacaan-bacaan shalatpun dia sudah tak ingat. Dan sudah sejak lama air wudhu tidak lagi menyapa wajahnya.

Ditatapnya adik semata wayangnya itu utuh. Ada keteduhan yang terpancar dari wajah itu. “Ah, ikam mirip sekali dengan Ummi” batin Ijul menggumam. Dengan pelan Ijul melangkahkan kakinya ke dapur. Ia tak ingin kekhusyukan shalat adiknya terganggu dengan kehadirannya.

“Sial!”, Ijul menyumpah-nyumpah. Diobrak-abriknya seluruh isi lemari dengan kasar. Tangannya gelagapan merogoh-rogoh laci-lacinya. Ijul ingat persis, kemarin dulu dia meletakkan botol malaga itu di rak paling bawah. Namun sekarang benda yang dicarinya itu seperti lenyap ditelan bumi. Kecewa dia tendang lemari tua itu. Kemudian berteriak-teriak seperti orang kesurupan.

“Botol laknat itu sudah ulun buang“, Nabila tiba-tiba muncul, masih dalam balutan mukenanya. “Ka, kenapa pian kaya itu ka… apa belum datang masanya untuk sadar. Insyaf ka ! ”, lanjut Nabila setengah berteriak.

Ijul terperanjat melihat kehadiran adiknya. Geram hatinya mendengar ucapan adiknya itu. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang berhak menasehatinya seperti itu, tak terkecuali adiknya.

“Keparat! Setan kecil!”, Ijul memaki-maki. Dia seperti kesetanan. Dibantingnya piring dan gelas yang ada di hadapannya. Pecahan-pecahannya memenuhi lantai dapur. Ingin rasanya ia menampar mulut adiknya yang dirasanya kurang ajar itu. Namun langkahnya malah tersurut mundur, ketika matanya beradu dengan sorot tajam sang adik.

Ka, pian mambari supan keluarga”, Nabila berucap sambil terisak. Butir-butir bening mengalir di pipi mungilnya.

“Diam !!!”, bentak Ijul keras. Diraihnya pisau kecil yang tersembunyi di dalam sakunya. “Diam kada!”, ulangnya lagi mengancam seraya mendekati adiknya. Ijul kalap

“Istighfar ka!”, Nabila berucap lirih mengingatkan kakaknya. Namun terlambat, pengaruh alkohol membuat akal sehatnya tidak lagi jalan. Dan sekelebat pisau itu sudah tertancap di perut Nabila.

Ijul terdorong ke belakang beberapa hasta. Disaksikannya darah segar muncrat dari tubuh adiknya. Ijul tidak percaya apa yang dilakukannya barusan.

“Is.. istigh.. far… ka…”, Itu kata terakhir yang sempat didengar oleh Ijul sebelum akhirnya sang adik tersungkur rubuh.

Ijul terpana. Sungguh, dia tidak ada niat sedikitpun untuk melukai apalagi membunuh adiknya. Dia tadi cuma bermaksud menakut-nakutinya. Ia tidak bermaksud….

“Ijul! Anak durhaka !!”, tiba-tiba suara itu kembali muncul menghantui Ijul. Kali ini suaranya bagai gemuruh petir. Memekakkan telinga.

“Dosa besar!! Anak durhaka !!!”, suara itu semakin keras. Ijul berlari keluar mencoba menghindari suara itu. Namun suara itu semakin menjadi-jadi. Ijul menjerit-jerit bagai kesetanan. Langkahnya terhuyung-huyung tak tentu arah menabrak apa saja yang ada di depannya. Sampai akhirnya tubuh itu terhempas roboh ke tanah.

…………………………….

Malam itu sunyi senyap. Dinginnya terasa menusuk sampai ke dalam tulang.  Dalam gelapnya malam  tampak seorang narapidana bertubuh ceking terlihat murung menatap bulan yang separuh. Dalam dinginnya malam dipeluknya jeruji besi yang membatasi dirinya dengan dunia luar.  Sejak kedatangannya sebulan yang lalu tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Perutnya pun sudah berhari-hari tidak tersentuh makanan.

Barusan dia menerima kabar tentang nyawa adiknya yang tak bisa terselamatkan., tentang penyakit Umminya yang semakin parah sehingga mengakibatkan Ummi meninggal sebelum sempat dibawa ke rumah sakit, tentang pesantrennya yang akan digusur untuk proyek pemerintah.

Dibukanya kembali surat yang ada disaku bajunya. Diejanya perlahan salah satu kalimat dalam surat itu. “… pulanglah nak…..”  namun dia tak berdaya meneruskannya. Semuanya kini sudah terlambat. Air matanya bergulir deras. Dalam sedunya dia raih bilah rotan yang terselip di balik celananya. Berulangkali dia berusaha merekatkannya, namun bilah rotan itu tak bisa kembali seperti sedia kala.

Malam semakin larut. Antara lelap dan terjaga sayup-sayup dia kembali mendengar suara. Suara merdu mendendangkan ayat-ayat kitab suci. Suara itu lama kelamaan semakin jelas…..

“…Innallaha ghafuurur rahiim….”

Dan isak tangis itupun mereda.

About Najmi Wahyughifary

Make a better civilization

Posted on June 23, 2011, in Karet Romantia, Tulisan and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Sad story. Bad ending. But, the picture is not improve with the story. Keep writing, bro !!! break a leg for Najmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: