‘Antara Cinta dan Sandal Jepit’

 

ANTARA CINTA DAN SANDAL JEPIT


Ini bukan kisah cinta Khalil Gibran dalam perjalanan puitis hidupnya…

Ini bukan romantisme perjuangan cinta John Lennon pada seorang wanita dari negeri Sakura….

Inilah untaian kisah cinta sejati…..

Kisah cinta penuh heroik dan pengorbanan….

Yang harumnya menyibak sampai raga hanya tinggal tulang belulang…

Heroiknya perjuangan cinta yang berkata……

Bahwa hidup adalah untuk cinta…

Dan mati pun karna cinta….

Saksikanlah ! Romantisme darah yang bercucuran ke medan perang…

Ini bukanlah cinta penuh bumbu dan pemanis

Yang hanya sampai ujung lidah…

Ini sebuah cinta yang rela ruh meninggalkan hingga ujung tenggorok

Bukan Cinta Biasa…………………..

Bukan lantunan galau khas penyanyi syair-syair Syaitan…..

Inilah tinta- tinta cinta yang sudah tertulis…

Yang menjadikan cinta menjadi cinta yang sebenarnya….

Sebuah intisari…..

Ibrah cinta dari heroiknya perjuangan sahabat…

Tetesan darah dan peluh yang begitu mengharukan…..  

Bukan ungkapan cinta yang hanya penuh kiasan…

Tapi ini sebuah lantunan merdu dari sang Pembawa Kebajikan…

                                                                                                         Syair Sang Penulis Korok                                                                                                                                      ~A’a Jim~

Cinta, Perjuangan dan Pengorbanan adalah tiga kata yang dapat mewakili dari heroiknya perjalanan hidup seorang insan manusia.   Tiga kata yang dapat mewakilkan perasaan setiap insan yang ingin meraih sebuah kepuasan yang terbungkus dalam sebuah tujuan.

*Cinta……..Lengkap, cinta sebuah bumbu yang selalu ada dalam sebuah hidangan makanan. Kata orang, tanpa cinta semua akan hambar. Tapi, bukan ini yang ingin saya bahas. Yang ingin di bahas adalah “How to implied ?”. Permasalahannya, cinta apa sih yang sebenarnya yang kita cari. Jangan-jangan kita salah memilih dalam urusan cinta, kita telah salah memutuskan persimpangan yang musti harus dipilih….

*Perjuangan…. Cinta sudah ada, tapi gak ada yang diperjuangkan sama aja bohong, iya gak ? Ngapain anda capek-capek bilang cinta terhadap sesuatu tapi gak ada action dari anda sebagai bentuk nyata anda berkata cinta. “Makan tuh cinta ! Emangnya cinta mau dikasih makan batu”, kata temen saya dalam sebuah kesempatan. Tanpa bentuk nyata dalam kehidupan yang sebenarnya sebagai konsekuensi kita berkata cinta, pastinya harus ada pembuktian. Bukan apa, siapa, mengapa, kapan, ataaupun dimana, yang ingin kita bahas. Tapi adalah ‘bagaimana’…Perjuangan yang bagaimana sih yang sebenarnya dalam memperjuangkan cinta. Jangan-jangan cinta yang kita pilih masih salah, bagaimana dengan perjuangannya ? Cintanya aja sudah salah apalagi perjuangannya.

*Pengorbanan….Kata saya sih, “Cinta tanpa perjuangan, bagaikan sayur  tanpa uyah. Sedangkan, cinta + perjuangan tanpa pengorbanan, bagaikan sayur pake uyah tapi kadada iwaknya…”

….Eh…Maaf…Jangan dihiraukan peribahasa diatas….

Pengorbanan adalah sebuah pembuktian paling riil akan sebuah bingkai perjuangan dalam tujuan cinta. Kita gak bisa langsung menerima sesuatu dari orang lain apabila kita belum mendapatkan sebuah penjaminan dan pembuktian yang pasti. Ketika kita berjuang, disanalah bibit-bibit pengorbanan di semai untuk memanen manis dan harumnya buah dari kita berkata cinta. Pahitnya pengorbanan adalah salah satu bukti nyata dari cinta dalam proses perjuangan. Namun, muncul lagi pertanyaan, ‘Pengorbanan yang bagaimanakah ?’…Itulah yang membesit dari pemikiran kita selama ini ….

Kita tahu, tapi kita tak menghiraukan.”                              ~A’a Jim~

Kayanya sudah basi bila saya panjang lebar menjelaskan apa sih cinta yang sebenarnya. Saya yakin hampir semua muslim mah udah pada tahu bahwa level cinta tertinggi adalah cinta karena Allah ta’ala. Kita juga sering mendengar penjabaran mengenai bagaimana Islam mengemas tips-tips cinta. Tapi kita hanya di sampai titik Know (tahu) saja. Kita belum memahami konsep, konsekuensi dan maknanya. Banyak dari kita telah melenceng dari prinsip sami’na wa ato’na. Kita seakan-akan semuanya hanya angin lalu, hanya bualan yang masuk ke telinga kanan lalu keluar dari telinga kiri. Kita jarang sekali mengaplikasikan/mengamalkan apa yang pernah kita dengar (dalam arti konsep amar maruf nahi munkar)…Sudah tahu itu salah, tapi masih aja kita kerjakan. Memang, manusia cenderung lebih suka memuaskan hawa nafsunya saja dibandingkan memuaskan akalnya. Oleh karena itu, kita mesti meningkatkan level diri kita lagi. Tidak hanya pada level know, tapi kita minimal sudah pada level do, lebih-lebih lagi kalo kita bisa mengajarkannya(dalam arti:kita benar-benar menguasai dan mengamalkan)

Singkat kata, dari sini kita perlu tahu…Tahu apa ?????

“Jemaahhhh….Uuuuuu…Jemaahhhhh…Alhamdu…..lillah…Jangan kemana-mana !!! “, sontak Si Ustadz bersorban dari ujung aula.

“Maaf, stadz…Ustadz ngapain ya disini ??? Ini bukan studio 1 Tra*ns TV, stadz…Ini mah ruang kerja saya…Emangnya siapa yang bakal dengerin ceramah ustadz..?? Toh ruangan ini Cuma 4×5 meter doang stadz…Cuma saya sendiri disini”, sontak saya.

“Iyakahhh ????”, jawab si Ustadz.

“Bisa jua……”, hinyik saya.  (Hinyik ??? Bahasa apaan tuh ??? Rasa-rasa gak ada deh di kamus bahasa Indonesia)

Si Ustadz terdiam dan mengernyutkan dahinya, saya juga tak mengeluarkan ekspresi apa-apa. Dalam beberapa detik kami saling menatap satu sama lain, tatapan yang penuh makna dan begitu mendalam sampai menusuk ke hati yang terdalam. Hingga akhirnya…Hingga akhirnya…Akhirnya, saya dan ustadz saling jatuh cinta….CERITA SELESAI….

“Ehhh…Penulis ngawur… Mau dibawa kemana nih tulisan ????”, tanya seorang sidang Pembaca (sambil memainkan gitar dengan lantunan gaya band Arm*da plus suara sumbang yang khas)

….Sekai lagi maafkanlah !!!!! Maafkanlah karena aku…halaahhhhh…Malah nyanyi….

“Nah…Kebetulan ada ustadz nih. Saya sekarang lagi nulis artikel mengenai Cinta, Perjuangan, dan Pengorbanan. Apakah ustadz punya petuah-petuah atau ilmu-ilmu buat isi tulisan saya ?”, gumam saya pada si Ustadz dengan senyum penuh kejijikan.

“Baiklah, wahai saudara Penulis yang dirahmati Allah…”, tungkas si Ustadz.

Tapi si Ustadz terdiam beberapa saat, saya pun juga terdiam.

“Cinta, Perjuangan, dan Pengorbanan. Semuanya akan kau dapatkan ketika kau mengetahui, memahami, serta mengamalkan ibrah(pelajaran) dari Perjuangan Rasulullah dan sahabat. Seperti heroiknya pendekar-pendekar Islam dalam jalur cintanya kepada perjuangan di jalan-Nya, ketika memahami arti hidup yang sebenar-benarnya hidup. Ketika hidup adalah untuk membuktikan cinta dan mati untuk menemui Sang Pemberi cinta.CERITA SELESAI. Wassalam… dadahhh”, lantang si Ustadz, namun beliau langsung menghilang dengan sorban ajaibnya..(Maaf, penulis lagi ngekhayal)

“Ustadz…Ustadz…Jangan pergi ustadz….ceritanya belum selesai…”, teriak saya.

“Heehehehehehehehe…Mampus lu !!! Rasain tuh !!! elu juga sih sering bikin orang jengkel lewat tulisan lu….Makanya kalau mau nulis tuh jangan seenaknya…!!!!”, hinyik salah seorang sidang Pembaca yang terdengar dari ujung ruang kerja..(hihihihihihhh…serem…euyke atuttt)

Baiklah, kelihatannya ada beberapa hal yang dapat ambil dari perkataan Ustadz tadi. Tadi, Ustadz sempat bilang bahwa cinta, perjuangan, serta pengorbanan yang sejati dapat kita temukan dalam ibrah perjuangannya Rasululullah dan sahabat. Kita sebagai muslim/muslimah tentunya harus punya mental layaknya para sahabat, dan selalu berusaha meneladani seluruh suri tauladan yang ada pada Rasulullah.Mesti diingat bahwa ketauladanan cinta, heroiknya perjuangan, serta pahitnya pengorbanan para sahabat dalam membela Islam dan melindungi Rasulullah merupakan sebuah jalan yang sulit sekali kita temui sampai saat ini.

“Cinta yang bagaimana ? Perjuangan yang seperti apa ? Dan pengorbanan  yang bagaimanakah ?”

Kita awali dengan sebuah kisah…..Kisah pada perang Mu’tah….

PERANG MU’TAH

Rasulullah SAW biasa mengirim surat  kepada para raja untuk berdakwah dan mengajakh kepada mereka akan Islam. Salah satu surat beliau telah dibawa oleh Harits bin Umair r.a. yang akan diberikan kepada Raja Bushra’. Ketika sampai di Mu’tah, salah satu hakim kaisar bernama Syarahbil Ghassani membunuh utusan Rasulullah tersebut. Membunuh utusan, menurut aturan siapa saja adalah sebuah kesalahan besar. Rasulullah SAW sangat marah dengan kejadian ini. Maka Rasulullah menyiapkan pasukan sebanyak 3.000 orang. Zaid bin Haritsah r.a. dipilih menjadi pasukan tersebut.

Hadist Rasulullah SAW:

“Jika ia (Zaid bin Haritsah) mati syahid dalam peperangan, maka Ja’far bin Abi Thalib yang menggantinya sebagai pemimpin pasukan. Jika ia juga mati syahid, maka pemimpin pasukan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Jika …..”

Seorang Yahudi, ketika mendengar berita ini berkata,”Ketiga sahabat yang telah ditunjuk oleh Rasulullah tersebut pasti akan mati. Anbiya AS pun, dahulu telah mengucapkan kata-kata yang demikian.”

Kemudian Rasulullah memberikan bendera berwarna putih kepada Zaid bin Haritsah r.a. Beliau sendiri ikut mengantar rombongan untuk melepas mereka. Di luar kota, ketika orang-orang mengantarkan pasukan tersebut akan kembali, maka beliau berdoa keselamatan, kejayaan dan agar mereka dijauhkan dari semua perkara yang buruk sampai mereka kembali.

Berangkatlah pasukan dengan komando Zaid bin Haritsah. Syarahbil pun telah menyiapkan pasukan sebanyak 100.000 tentara untuk melawan kaum muslimin. Dalam perang itu, para sahabat juga telah mendengar kabar bahwa Heraklius, raja Romawi, juga telah menyiapkan 100.000 tentara untuk ikut membantu menyerang pasukan kaum muslimin. Maka, dengan jumlah sebanyak itu sebagian sahabat menjadi ragu, bayangkan saja pasukan muslimin saat itu hanya berjumlah 3.000 pasukan sedangkan musuh kafir hadir dengan jumlah kurang lebih 200.000 pasukan. Dan di hitung-hitung, diperkirakan 1 orang pasukan muslimin harus menghadapi dan mengalahkan sebanyak kuarnag lebih 66 orang pasukan kafir. Keraguan terus melanda pasukan muslimin, hingga akhirnya Abdullah bin Rawahah berkata,

“Hai orang-orang, apa yang kalian takuti ? Untuk apa kalian keluar meninggalkan Romawiah kalian ? Apakah kalian keluar ini untuk mati syahid ? Kami adalah orang-orang yang tidak memperhitungkan kekuatan ataupun banyaknya orang dalam pertempuran.Kami hanya berperang agar di suatu hari nanti, Allah SWT memuliakan kita. Majulah!!! Setidaknya salah satu di antara dua kemenangan mesti kita dapatkan. Mati syahid, atau menang dalam pertempuran ini.”

CINTA + PERJUANGAN + PENGORBANAN = Sebuah Harga Mati     

Mendengar kata-kata tersebut, semangat kaum muslim kembali bangkit. Mereka terus maju sehingga sampailah pasukan tersebut di Mu’tah dan mulailah pertempuran sengit. Dalam awal pertempuran bendera di bawa oleh Zaid bin Haritsah. Dengan bendera di tangan, ia telah menyerang ke tengah pertempuran. Ketika itu saudara Syarahbil terbunuh sedangkan kawan-kawannya melarikan diri. Syarahbil sendiri telah lari ke sebuah benteng dan bersembunyi di dalamnya. Kemudian raja Heraklius mengirimkan bala bantuan lagi kurang lebih 200.000 pasukan tentara. Pertempuran berjalan begitu sengit, walaupun muslim dengan jumlah yang sangat jauh dari pasukan kafir, tetapi dengan CINTAnya para sahabat terus berjuang dan berkorban demi indahnya memperjuangkan CINTA di jalanNya.

Akhirnya, Zaid bin Haritsah r.a.gugur syahid. Maka bendera kaum muslimin segera diambil oleh Ja’far bin Abi Thalib, setelah itu ia memotong kaki kudanya agar ia tidak berpikiran lagi untuk kembali (melarikan diri). Sambil menyerang musuh, ia membaca beberapa bait syair yang terjemahannya sebagai berikut:

Hai orang-orang, apakah tidak baik surga itu ?

Dan surga itu sudah dekat

Betapa indahnya ia

Dan betapa sejuknya air surga

Telah dekat masa siksa bagi raja Romawi

Dan saya mempunyai kewajiban untuk membunuhnya

Setelah membaca syair tersebut, Jafar bin Abi Thalib langsung memotong kaki kudanya dengan tangannya sendiri. Agar hatinya tidak berpikir untuk kembali. Ia menghunus pedangnya dan terjun ke tengah-tengah medan pertempuran. Karena ia adalah pimpinan pasukan, maka bendera itu tetap di tangannya. Pada mulanya, bendera tersebut dipegang dengan tangan kanannya. Tetapi salah seorang pasukan kafir berhasil memenggal tanngan kanan beliau sehingga bendera pun terjatuh. Maka dengan sigap, bendera tersebut beliau ambil dengan tangan kirinya…Subhanallah…Tetapi, orang kafir itu kembali memotong tangan kirinya dan bendera pun terjatuh. Tetapi dengan luar biasanya CINTA, Ja’far bin Abi Thalib segera menyongsong bendera tersebut, mendekap dengan kedua lengannya yang tersisa dan menggigitnya bendera itu sekuat tenaga. Kemudian, seorang musuh dari belakang menebasnya dengan pedang sehingga tubuhnya terpotong menjadi dua. Ia pun roboh ke tanah, dan gugur dalam keadaan syahid. Pada saat itu, Ja’far bin Abi thalib r.a. baru beRomawiur (umur) tiga puluh tiga tahun. Dan beliau meninggal dengan 90 buah luka.

Abdullah bin Rawahah pun langsung terjun dan berkata memarahi dirinya sendiri.

“Hai lihatlah, Ja’far telah syahid, sedangkan kamu masih sibuk dengan kedunianmu.”

Maka, ia segera maju dan mengambil bendera kaum muslimin. Tetapi, jari tangannya telah terluka berlumuran darah dan terkulai hampir putus. Kemudian jari itu ia injak dengan kakinya sendiri lalu ditariknya hingga terpotonglah jarinya tersebut. Kemudian, jari tersebut ia lemparkan dan ia langsung maju kembali ke medan perang. Dalam keadaan susah payah, ia merasa sedikit ragu di dalam hatinya karena hampir tidak ada semangat dan kekuatan lagi untuk berperang. Tetapi, keraguan tersebut hanya terlintas sebentar saja dalam hatinya. Ia segera berkata pada dirinya sendiri,

Wahai hati, apa yang masih kamu ragukan ? Apa yang menyebabkan kamu masih ragu ? Istrikah ? Ia sudah saya talak tiga. Atau hamba sahaya yang kamu miliki ? Semuanya telah saya merdekakan. Ataukah kebun ? Itu pun telah saya korbankan di jalan Allah.”

Setelah itu, ia membaca syair,

“Wahai hati, kamu harus turun. Meskipun dengan senang hati, ataupun dengan berat hati. Kamu telah hidup dengan ketenangan beberapa lama. Berpikirlah, pada hakikatnya, kamu berasal dari setetes mani. Lihatlah orang-orang kafir telah menyerang orang-orang Islam. Apakah kamu tidak menyukai surga jika kamu tidak mati sekarang suatu saat nanti, akhirnya kamu akan mati juga.”

                Setelah itu, ia turun dari kudanya. Seorang sepupunya, yaitu anak pamannya, telah member  sekerat daging kepadanya sambil berkata, “Makanlah ini untuk meluruskan tulanh punggungmu.” Karena sudah berhari-hari ia tidak makan, maka daging tersebut diterimanya. Baru saja ia mengambil daging tersebut, terdengar suara kekalahan. Akhirnya, dilemparkanlah daging tersebut. Ia segera mengambil pedangnya dan menyerbu ke kancah pertempuran melawan pasukan kafir. Ia terus bertempur hingga akhirnya syahid dan bertemu dengan Sang Maha Pencipta CINTA.

SUBHANALLAH……

Inilah CINTA yang terbingkai dalam kerasnya PERJUANGAN yang terbalut manis dalam indahnya PENGORBANAN di jalanNya.

Pertanyaannya:

  • Dimanakah cinta kita saat ini ?
  • Cinta yang seperti apakah yang kita miliki saat ini ?
  • Mencintai dunia yang fana atau mencintai kehidupan setelah kematian ?
  • Ketika mencintai dengan memperjuangkan serta pengorbanan. Apa yang telah kita perjuangkan dan korbankan selama ini ?
  • Masihkah kita berpikir bahwa masih banyak waktu bagi kita untuk bisa kembali pada hakikat CINTA yang sebenarnya dan mau untuk memperjuangkannya ?
  • Sudahkah kita meyakini bahwa cintanya seperti para sahabat lah yang dapat mempertemukan kita semua di singgasana manis dan harumnya aroma surga ?
  • SEKARANG !!!! Marilah kita bersama-sama mengintrospeksi diri kita. Dan kita harus memutuskannya sekarang.
  • Semoga Allah mengkonsistenkan hati kita

”Hati-hati dalam menyalurkan cinta. Karena hati itu mudah dibalikkan layaknya sandal jepit. Makanya perlu hati-hati, jangan-jangan sang Pemilik hati membalikkannya, seperti seorang pemuda membalikkan sandal jepitnya ketika pergi ke mesjid.”                                                                                               ~A’a Jim~

”ehhhhh……Ngawur lagi kan ??? elu kan nulis nih cerita judulnya ”Antara Cinta dan Sandal Jepit” ? Mana sandal jepitnya, cuyyyy ?”, keluh salah seorang sidang Pembaca dari atas plafon ruang kerja.

”Hihihihihihihi……Saya gak tahu juga….Kenapa judulnya ada ’sandal jepit’nya.”, simpul si Penulis.

”Waduhhh…kurang ajar sekali anda ini !!! Saya sudah menahan semua ini berbulan-bulan. Saya marah besar pada anda. Saya tidak mau tahu, anda harus mengganti judulnya !!! Sekarang juga !!!”, bentak si Beliau.

”Ehhh…Kenapa anda yang marah ???? Yang nulis siapa hayooo ??? Yang bikin cerita siapa hayoo??? Yang masukin elu dalam cerita ini siapa ???  TULISAN saya …yaaa…Terserah saya dong…”, elak si Penulis.

Si beliau terdiam beberapa saat, dia pun menatap saya tajam. Saya pun menatapnya, kami pun saling bertatapan dan akhirnya hidup bahagia,,,hihihihihi….ehh gak nyambung….Tiba-tiba, si beliau menunduk dan ternyata mengambil sandal jepit di kakinya dan melemparakannya ke muka saya…

Dan akhirnya…Saya dan sandap jepit-pun hidup bahagia sampai akhir hayat….CERITA SELESAI….

”Kengawuran murni dari yang di ciptakan…Kesempurnaan mutlak dari yang menciptakan.”~A’a Jim~

“Katakanlah “Jika kamu mengutamakan bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta hasil usahamu, perdagangan yang kamu khawatirkan kebangkrutannya dan tempat tinggal yang kamu senangi, melebihi daripada mencintai Allah dan Rasul-Nya serta berjihad fi sabilillah, maka nantikanlah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya” (TQS. at-Taubah 24).

About Najmi Wahyughifary

Make a better civilization

Posted on August 24, 2011, in El Kisah Uniek, Kacang Goreng, Tulisan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: