“Dalam Ruang Syukur…”

Panasnya matahari begitu terik memancar ke permukaan bumi, kota Banjarmasin yang begitu sejuk ketika pagi seketika menjadi terik panas menjelang waktu zuhur. Matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Bel tanda jam ke-6 telah berakhir, waktunya istirahat. Ketika banyak orang pergi melepas dahaga lapar dan hausnya menuju kantin sekolah, namun lain yang kucari. Sudah sejak pertama kali ku menginjakkan kaki di tempat ini, hampir jarang sekali ku pergi ke kantin pada jam istirahat ke-2. Mungkin karena faktor ekonomis(tak punya uang ? Ya, emang benar) atau faktor lain, diri ini entah mengapa tak segetilpun membawa pikiran dan merasuk perasaan untuk meminta diri pergi ke kantin. Sejak mushala lama yang begitu meninggalkan memori yang begitu mendalam yang kini sudah ditidakfungsikan, namun semangat di surau lama itu begitu kental hingga sekarang. Ketika banyak orang mencoba mementingkan urusan perutnya, di satu sisi tampaklah pemuda-pemuda dengan wajah sumringah walau perut kosong masih begitu semangatnya menyonsong hari. Aku lupa kapan terakhir kali aku pergi ke kantin ketika istirahat ke-2, seingatku kalau tidak salah waktu kelas 10 semester 2, ketika mushala baru belum difungsikan, karena selama ini apabila waktu istirahat ke-2 telah tiba, pikiranku cuma satu, pergi ke mushala. Tempat ini seakan-akan sudah menjadi magnet bagi diri ini. Walau belum terdengar suara lantunan Al-Quran yang menandakan akan datangnya waktu zuhur, aku tetap santai-santai saja di mushala berdiam diri.

Seperti biasa, setelah sholat tak berapa lama bel pelajaran ke-7 berbunyi, entah mengapa lagi diri ini tidak pernah merasakan lapar dan haus, dan hal ini sangat menguntungkan bagi aku. Ya, setiap hari hampir jarang aku mengeluarkan uang untuk membeli makanan atau minuman.

Setelah puas memenuhi dahaga batin dan jiwa. Hari ini Kamis, 15 September 2011, jadwal pelajaran ke 7-8 adalah pelajaran Bahasa Jepang. Seperti biasa lagi, aku sering molor apabila pelajaran jam ke-7 di mulai karena sering kelamaan nongkrong di mushala, Langkah kaki menebas setiap tapak derai debu dan teriknya sekolah ini. Ternyata teman-teman kelas masih banyak yang di luar ruang Bahasa Jepang, mungkin Sensei Wisno masih belum datang.Dan ternyata benar. Setelah menaruh tas di kelas dan mencari posisi-posisi yang kosong yang kira masih tersisa, karena datang yang paling lambat. Malahan, dapat posisi di depan dan sendirian. Tak berapa lama Sensei Wisno datang. Aku yang dari tadi cuma duduk tenang di kelas sedangkan teman-teman lain berhamburan masuk ke dalam kelas karena sang pemberi ilmu sudah datang.

“Anak-anak hari ini kita kada belajar. Aku lagi ada tugas, jadi kita santai aja dulu pertemuan kali ini.”, ucap Sensei.

Suasana kelas riuh. Semua tampak sumringah dan bahagia, semua asyik dengan aktifitasnya, dari ngobrol, main handphone, laptop, bahkan banyak teman-teman yang keluar kelas untuk cari makan.

Lagi-lagi, entah mengapa diri ini tak terbesit sedikitpun untuk melakukan apa-apa. Hanya ingin diam dan menenangkan diri. Kebetulan saat itu duduk sendiri tepat di depan meja Sensei Wisno yang mulai melakukan kesibukannya. Tiba-tiba muncul sebuah keinginan untuk memulai pembicaraan yang ku kira dapat memuaskan akal bila ku coba tanyakan pada Sensei. Karena selama ini Sensei punya retorika serta penyampaian dan analisa akan sebuah masalah yang cukup bagus, walau di satu sisi yang beliau sampaikan terkadang melenceng dari aqidah dan juga sedikit nakal. Bahkan ada temanku yang kurang suka dengan beliau karena apa yang sering beliau sampaikan terutama mengenai agama, sering menimbulan ‘pengambangan tafsir’ yang seakan-akan berani. Tapi tak masalah, ku coba ambil yang baiknya saja dari setiap orang. Setiap orang pasti punya kisah hidup yang merupakan suatu pengalaman dan pengalaman itu adalah ilmu, yang ku kira dapat ku ambil dari beliau.  Ku coba saja mulai pembicaraan dengan Sensei, ku mulai saja dengan pertanyaan yang beberapa saat yang lalu sempat terpikirkan.

“Sensei, pian tahu lah istilah ‘Pelacur’ waktu zaman penjajahan Jepang. Banyak para wanita-wanita di daerah di Indonesia, termasuk Banjarmasin. Dimana saat itu, banyak para wanita-wanita terutama yang masih muda dan perawan di kumpulkan lalu mereka di paksa untuk memuaskan nafsu birahi setan para tentara Jepang saat itu. Sampai sekarang masih banyak saksi hidupnya, yaitu para nenek-nenek lanjut usia. Dan di Banjarmasin, saat itu tempatnya berpusat di sekitar daerah Telawang, sekarang dekat kantor Pemko Banjarmasin.”, jelas aku pada Sensei dengan tatapan tajam.

“Oh….Rasanya aku pernah mendangar pang. Geisha pang kalo istilah pelacur dalam Jepang…’, tandas Sensei dengan lugas.

“Lain itu, Sensei. Ada istilah Jepang-nya. Tapi ulun kada ingat, ulun sempat nonton dokumenternya, dan kebetulan shootingnya mengambil di Banjarmasin.”, sahut saya.

“Apa yu lah ? Kada tahu aku.”, ucap Sensei dengan sedikit kebingungan.

Sempat terdiam percakapan antara kami berdua, tiba-tiba Sensei melirik ke kananku, ternyata Nana, Laila, dan beberapa anak cewek lainnya memperhatikan dialog kami berdua. Tiba-tiba memori otakku mulai menerka, dan akhirnya.

“Nah. Ulun ingat, Sensei. Istilah Jepang-nya tuh, ‘Jugun Ianfu’ . Tahu nah ulun bujur atau kadanya penulisan dan penyebutannya. Pian tahu artinya lah ?”, sumringah aku dengan penuh keyakinan.

“Nah. Kada pernah mandangar pang aku, Najmi ae. Kam tahu kah sejarahnya ?”, lanjut Sensei.

“Yang pernah ulun baca dan tonton pada dokumenter tentang Jugun Ianfu dulu ada sekitar 200.000 perempuan yang dengan kejamnya dijadikan para tentara Jepang sebagai budak syahwat mereka.”, jelas aku pada Sensei.

Aku menjelaskan begitu panjang kepada Sensei mengenai yang ku tahu seputar Jugun Ianfu dan penjajahan Jepang di Indonesia. Sensei begitu memperhatikan penjelasan yang cukup lama sampai semuanya habis.

Tak berapa lama setelah ku dengan panjang lebarnya menjelaskan pada Sensei, kali ini Sensei yang memulai dialog dengan arah pembicaraan lainnya. Sensei sering membicarakan masalah kehidupan, khususnya masalah konflik dan penyimpangan masyarakat.

Kali ini Sensei membicarakan suatu hal yang jarang sekali ku dengar dari beliau. Beliau memulai pembicaraan seperti biasa. Ya, masalah konflik dan kekerasan yang pernah beliau saksikan ataupun alami, tentang masa-masa muda beliau dahulu sebelum beliau menikah dan bekerja. Kali ini ku coba menetralkan diri sejenak, ku taruh diriku pada posisi yang senetral-netralnya. Beberapa ucapan Sensei ku perhatikan dan dengar, namun pikiranku sambil bermain dan mengembangkan ide-ide serta dasar pemikiran yang telah ku coba tanamkan sejak dahulu.

Sensei begitu seriusnya menjelaskan hal ini, hal yang sebenarnya merupakan hal yang pertama ku dengar dari Sensei, karena biasanya ketika kami berdiskusi (biasanya dengan teman yang lain) pasti yang di bicarakan tidak lepas dari masalah anak laki-laki dan kenakalannya, serta proses menuju evaluasi diri. Namun kali ini beda, entah mengapa Sensei kali bercerita tentang masalah hidupnya yang terbaru, bukan masalah masa kuliahnya, bukan masa kenakalannya. Tetapi sebuah masalah yang sebenarnya yang harus mesti di hadapi oleh para lelaki yang telah dewasa pada suatu saat nantinya. Aku tak bisa menceritakan panjang lebar mengenai dialog kami berdua tentang hal baru ku dengar dari sosok seorang Sensei yang sebenarnya dilematis dan pro kontra. Namun, ku coba ambil ibrah(pelajaran) dan hikmahnya saja. Begitu panjang dialog kami berdua tentang masalah kehidupan ini. Dari kurang lebih satu jam kami berdialog, dari jam 13.00 WITA sampai 14.00 WITA, ku mulai memahami dan mengerti arti sebuah hidup. Bahwa hidup adalah tentang perjuangan, keikhlasan, dan syukur. Begitu luar biasanya ketika ku mencoba mencuri ilmu dari orang lain. Dan aku sempat mengemukakan sebuah pernyataan kepada Sensei.

“Kita sebenarnya bisa hidup dengan ikhlas, apabila kita memang terbiasa untuk ikhlas ya, Sensei.”, gumam aku.

“Memang begitu sebenarnya.”, balas Sensei.

Pelajaran hidup mungkin sulit ku dapatkan di buku mana saja, namun inilah pelajaran inti dari hidup bahwa. Hidup adalah sebuah perjuangan tiada henti, tentang ikhlas yang tiada batas, tentang syukur yang luas. Mungkin dari cerita ini sedikit saja yang mungkin kita bisa ambil pelajaran. Namun yang perlu ku bagikan adalah aku bersyukur karena umi dan abahku masih senantiasa membimbingku. Aku bersyukur karena ku masih di beri nikmat tiada batas berupa kesehatan dan iman serta waktu. Aku bersyukur karena ku masih terus mencoba berjuang meniti di jalan kemuliaan Islam itu. Aku bersyukur karena kelak ku akan paham mengenal perjuangan di atas perjuangan seorang murabbi. Aku bersyukur bahwa semangkuk kebahagiaan bukan dari kenyangnya perut, indah pakaian dan perhiasan, megahnya rumah, cantiknya istri. Tapi kebahagiaan itu terletak di hati ketika menikmati manisnya perjuangan iman di dalam hati.

 

Maka nikmat Tuhan yang manakah yang masih kita ingkari ?

7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Hasbunallah wa ni’mal wakil.

Astagfirullahal adzim wa atubuilaih

Subhanakallahhumma wabihamdika asyhadualla illa ha’ illa anta astagfiruka wa atubu ilaik.

Taqaballahu minkum.

Semoga bermanfaat.

Tertanda; NW….Ketika saya mencoba menulis dengan semua gaya.

About Najmi Wahyughifary

Make a better civilization

Posted on September 17, 2011, in Tulisan, udahtaunanya. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: