“Untuk Setitik Ruang Rindu, Shofiah…”

Untuk Rinduku di Surga, Shofia…

            Setelah hampir satu dekade berlalu dimana saya hanya lah seorang anak kecil ingusan yang pendiam, kemana-kemana dengan sepeda, wajah polos yang terkadang memendam keberingasan yang tak terduga-duga, seorang anak yang jarang bergaul, tumbuh besar berkat oleh seorang mubalighah yang saya anggap luar biasa, almarhumah nenek saya Hj. Shofiah. Seorang tokoh dakwah lingkungan Masjid Jami Sungai Jingah yang sangat terkenal di era 70an sampai penghujung tahun 2000 (beliau meninggal tahun 2003, ketika itu saya masih kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah). Ketika berangkat sekolah selalu bersalaman dengan Abah dan Ummi yang setiap paginya harus berangkat lebih awal untuk bekerja demi menafkahi seorang anaknya yang mulai tumbuh kembang besar. Kecupan manis dari Ummi, begitu cepat menghela waktu. Saya yang masih kecil saat itu dididik oleh seorang nenek yang saya anggap luar biasa, beliau adalah episode kehidupan yang berperan begitu luar biasa dalam episode hidup saya saat ini. Saya adalah cucu kesayangan beliau satu-satunya, maklum saya adalah cucu beliau yang paling kecil dan saya saat itu masih berstatus anak tunggal. Kembali terkenang, beliau selalu membawa saya kemana-mana terutama dalam aktivitas dakwah beliau. Beliau merupakan seorang mubalighah yang cukup di segani di wilayah Masjid Jami Sungai Jingah dan sekitarnya. Beliau selalu membawa saya ke berbagai pengajian-pengajian di berbagai tempat di Banjarmasin yang beliau pimpin. Beliau yang sering menemani saya saat bersekolah di TK Islam Bakti, yang letaknya sangat dekat sekali dengan rumah saya saat itu yang masih dalam satu komplek Masjid Jami. Sebuah rumah tua yang begitu luar biasa, yang letaknya persis di samping Pondok Pesantren Hunafaa milik K.H. Husin Nafarin, Lc. Sebuah rumah yang jauh dari kata nyaman namun dapat menentramkan hati. Sebuah rumah yang mengajari akan sebuah arti hidup bahwa hidup dalam kesederhanaan serta ketentraman dalam naungan syariah Islam yang merupakan sebuah keharusan. Saya tinggal di rumah itu hanya sampai kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah saja setelah kepulangan beliau untuk menghadap Sang Pencipta.  Kini rumah itu telah tiada lagi, sudah berubah menjadi perpustakaan kampus STAI Al Jami milik K.H. Husin Nafarin, Lc.

Secercah memoriam yang begitu menguat dalam batin ini, saya begitu ingat tatkala beliau lah, almrmh. Shofia yang selalu menemani setiap episode kehidupan masa kecil yang saya anggap saat ini sebagai hal yang aneh karena saya bingung dengan tingkah saya saat kecil dahulu. Beliau lah yang selalu membawasayadari pagi hingga sore, beliau lah yang selalu menjagaku. Saya teringat saat saya masih TK nol kecil (saat itu usia saya masih 4 tahun, kebetulan saya bersekolah di TK selama 3 tahun karena usia yang terlalu muda), hari itu seperti biasanya nenek mengantar saya ke sekolah dan mengawasi dari luar ketika belajar bahkan sering masuk ke kelas untuk sekedar membantu saya saat itu dalam belajar. Namun, saat itu nenek setelah mengantar saya sekolah langsung pergi, biasanya ke pasar. Saat itu saya tidak khawatir dan mulai terbiasa. Setelah selesai belajar, saya pun pulang ke rumah. Namun seakan-akan tangisan di pipi mulai berlinang, nenek tidak ada di rumah. Saya pun ketakutan karena rumah terkunci dan nenek pun tidak ada. Akhirnya, saya yang saat itu penuh dengan air mata di pipi dengan nekatnya berlari dan mendatangi sebuah rumah di samping rumah saya. Yang tak lain dan tak bukan adalah Pondok Pesantren Hunafaa. Saya duduk menangis di salah satu rumah di wilayah Pondok Pesantren. Tiba-tiba lah keluar, sesosok pria berjubah putih dan kopiah putih dengan wajah cerah dan jenggot yang cukup panjang. Sosok K.H. Husin Nafarin, Lc keluar menghampiri saya dan menyuruh saya masuk dan meredakan tangisan saya dengan memberikan makanan dan minuman. Sekitar satu jam kemudian, nenek datang ke rumah K.H. Husin, beliau terlihat menangis karena mengira cucu kesayangannya hilang setelah sebelumnya mencari-cari kemana-mana dan ternyata ada di rumah K.H. Husin Nafarin. Pelajaran yang begitu berharga yang pernah beliau tanamkan pada diri saya. Pelajaran hidup yang berharga, yang menjadi inspirasi untuk tetap terus mencoba berjuang di jalan Islam. Beliau adalah seorang nenek yang luar biasa, beliau seorang pejuang Islam, seorang pekerja keras, ulet (beliau sudah ditinggal suami beliau/kakek sejak abah masih kecil, sekitar tahun 60an), sosok yang punya pengaruh walaupun tidak dalam gelimang kenikmatan dunia. Saya sangat rindu dengan beliau, tutur kata beliau yang tak pernah satu kata pun pernah memarahi saya ketika Ummi yang memberikan hukuman keras kepada saya. Seorang wanita yang sangat ulet dalam pekerjaan, bahkan pekerjaan pria sekalipun. Seorang guru yang luar biasa walaupun sering salah menjawab PR matematika dulu kala, namun seorang pemberi ilmu luar biasa dalam arti sebuah perjuangan. Walaupun saya dulu masih tak mengerti dan belum paham apa-apa, sekarang lah pendewasaan itu datang. Saya memaknai setiap bait episode hidup ini sebagai refleksi perjuangan di masa lampau.

Pelajaran yang begitu berharga yang pernah beliau ajarkan yang saat ini masih ku pegang, yaitu sebuah ‘kenekatan’.  Itulah sebuah pelajaran yang begitu berharga yang menjiwai diri saya sampai saat ini. Antara kenekatan dan kepercayaan diri seakan seperti memadu. Penawar rindu yang begitu terhampar di ruang rindu untuk sebuah oase di tengah perjuangan yang melelahkan. Bingkai syara’ yang kini saya sadari sebagai ilmu utama yang beliau wariskan pada saya yang masih kecil saat itu. Dan saya sekarang sudah paham dan mengerti.

Allahummaghfirlahaa warhamha wa afihii wa’fuanha…Semoga cucu mu ini akan menemui di JannahNya kelak bersama orang-orang yang beriman.

Saya kan terus merindukan sosok beliau yang begitu luar biasa. Saya akan terus mencintai beliau dan suatu saat dapat menemui beliau di jannahNya. Berharap kan lahir dari Qabilah ini sosok wanita seperti beliau. Berharap kan ada yang mengisi episode selanjutnya seperti beliau mengajari arti sebuah perjuangan.

Kelak…

“Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, anak yang shalih yang mendo’akannya atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad).

Mengharapkan diri ini sebagi insan yang shaleh dan bertemu dalam ruang keshalihan dan kasih sayang jannahNya. Berharap dalam bingkai usaha kan ada suatu saat nanti hadir disisi ini sosok seperti beliau.

Innalaha ghafururrahim…

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa hambaNya yang senantiasa berdoa.

About Najmi Wahyughifary

Make a better civilization

Posted on October 23, 2011, in Karet Romantia. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: