“Maling Cantik…”

We were told what to buy and we’d bought
We went to London, Paris and
We made show we were seen in the most exlusive shops
Yes we felt so very satisfied (Background Sound: Maher Zain-Awaken)

“Ehhh…elu sembarangan lagi bikin cerita…Apaan nihhh judul nya ? ‘Maling Cantik’…gak jelas banget dahhh…”, ejek salah seorang sidang pembaca.

“Lahhhh…Salah apa lagi saya ???? Ini mahh sudah jelas judul tulisannya, ‘Maling Cantik’…”, jawab saya.

“Ohh…Tidak bisa…saya tak bisa nerima. Apa maksud dari ‘Maling Cantik’ disini ? Anda harus menjelaskannya… Saya butuh klarifikasi anda..”,balas sang pembaca.

“Ahhh… Saya tidak mau tahu…Ini sudah keputusan bulat saya membikin tulisan ini dengan judul ‘Maling Cantik’…Kenapa anda yang ribut ??? Toh, saya juga yang nulis ini cerita…Walaupun anda mau bakar tulisan saya pun itu gak masalah…Dan saya heran selama ini…Anda ini siapa ??? Sok-sokan banget ngatur saya…Tuh kan…emosi kan saya…Ngomong-ngomong…Nama elu siapa sih ??? Boleh kenalan gak ??” bentak saya.. hihihih (kok ga nyambung yahhh)

Si pembaca hanya terdiam dan terpana. Dia sodorkan tangannya untuk menjabat tangan saya. Tak berapa lama kemudian.

“Perkenalkan…Nama saya ******….Saya orang yang selalu mengkritik anda. Hihihihi.”, ucapnya.

_________________________________________________________________________________

Brakkkk…sebuah tas hitam jatuh dari lantai 2 mushala lawas….Setumpuk kertas berhamburan di selasar perwudhuan.

Ceritapun dimulai…

“Assalamualaikum warahmatullah. Assalamualaikum warahmatullah.” Salam ke arah kanan dan kiri terlantun pada shalat berjamaah.

Bacaan wirid panjang shalat magrib berlanjut dengan iringan bacaan imam yang hikmat dan menenangkan.

Seperti biasa, saya kalau pergi ke masjid buat shalat pasti menggunakan sandal jepit korok yang tercinta. Agak sedikit kurang nyambung, karena malam itu saya biasanya kalau pergi shalat magrib di masjid pasti  setelah selesai shalat sunnah ba’diyah langsung cabut menuju ke rumah. Namun , kala itu ada sedikit getaran yang berbeda merasuk dalam jiwa saya. Saya berdiam diri sebentar di dalam masjid. Selang beberapa menit, saya pun berniat pulang. Hati yang tentram dan santai melangkah dengan semangatnya keluar dari masjid. Lantai keramik masjid yang begitu dingin membuat jejak tapakan kaki terasa begitu sejuk dan nikmat. Tengok ke kiri, tengok ke kanan.

“Mana sandal jepit saya nih ?” tanya dalam hati.

Sandal jepit saya telah resmi di gondol maling.

Saya telusuri seluruh sudut masjid, namun sandal saya nihil ketemu juga. Akhirnya, saya putuskan pulang nyeker dari masjid menuju rumah. Lumayan juga sih, kotoran di kaki mendapat asupan bergizi dari jalanan becek plus berbatu. Sepertinya maling sandal jepit punya saya memang sudah keblinger dengan tuh sandal jepit yang korok banget. Seandainya dihargai pun, saya yakin sandal saya tersebut gak bakalan laku walaupun di obral habis-habisan sampai harga termurah. Seakan-akan ini menjadi epilog baru dalam kisah sandal jepit saya.

“Selamat berjuang, sandal jepit. Semoga kau bahagia di sana.hiks hiks hiks hiks….”

`Dilematisasi problema umat terus mengguncang ibu pertiwi tercinta ini. Masalah selalu melanda negeri yang tercinta ini. Negeri kita yang katanya sangat kita cintai terus kemalingan dengan berbagai aksi pencurian dari berbagai sektor. Maling-maling ini telah begitu mengakar dalam negeri tercinta ini. Kita telah kecolongan banyak hal dari dalam negeri yang katanya ‘kaya’ ini. Sudah berapa kali kita kemalingan dari peristiwa yang sudah-sudah. Sadarkah kita ? Kita adalah bangsa yang terus kemalingan.

Dan saya ingin perkenalkan maling tersebut. Bukan maling sandal jepit saya, bukan maling jemuran rumah anda, juga bukan maling ayam tetangga. Tapi ini adalah maling yang sangat luar biasa. Dialah….Maling Cantik….Eh, jangan salah praduga dulu. Ini bukan maling yang punya wajah cantik kaya Mbak Ariel Peterpan, ups..maksudnya Mbak Luna Maya.Bukanlah maling yang punya fisik yang cantik dan mempesona kaum pria. Tapi, maling ini lebih dari itu semua.

Dialah maling yang sesungguhnya. Siapa dia ? SISTEM…

Eh, kenapa Sistem ? Saya yakin beribu yakin dari kita gak ada yang sadarnya bahwa kita telah kemalingan dalam berbagai banyak hal akibat dari SISTEM yang berpedoman kepada hawa nafsu dan kesombongan. Kita telah disilaukan dengan cantiknya permainan sistem yang banyak memalingi segala kekayaan yang kita punya.

Tapi, Sistem bukanlah nama lengkapnya…Saya perkenalin, namanya adalah Sistem Kapitalisme. Dialah yang saya sebut sebagai maling tercantik yang pernah ada di permukaan bumi ini. Dialah maling sejati yang telah mencuri bahkan merampok negeri secara halus dan cantik. Ok..Saya yakin kita gak merasa sama sekali. Kenapa ? Karena kita telah tersilaukan dengan cantik nya permainan dari ‘the greatest robber that ever been in the world’.  Emangnya mereka telah memalingi apa saja ? Banyak….Kita telah kemalingan kekayaan negeri kita (tambang batubara, emas, minyak, gas), ekonomi  (hanya orang-orang yang punya modal saja bisa kuat), hukum (bisa dibeli oleh para maling negeri ini dengan mudah, ex: koruptor, suap-menyuap, sogok, dll) kesejahteraan masyarakat yang hanya jadi bualan para maling yang bermain dengan cantiknya yang begitu menyilaukan dan menipu mata kita. Belum lagi akidah kita sudah kemalingan begitu banyak, akidah kita telah tergadai permainan para maling. Dan yang terhangat adalah mengenai isu Freeport dan ironi arena Sea Games yang seakan sudah menyilaukan kita dari paradigma maling yang terus menggerogoti negeri ini. Lebih berharga mana sih ? Emas di cabang olahraga Sea Games ? Atau emas Freeport yang katanya bernilai ribuan triliun bahkan lebih yang saat ini masih dikuasai asing ? Emas Sea Games emang bisa mensejahtekan masyarakat ? Dengan kekayaan ribuan triliiun dari emas Papua setidaknya itu telah mampu memberi makan seluruh penduduk negeri ini apabila kekayaan ini mutlak dikelola oleh orang negeri ini. Tapi kita lebih bangga mana ? Kita telah buta, bro…

Masihkah kita buta dengan maling yang terus mengerogoti rumah kita ? Jadi siapa sebenarnya sih maling dari negeri kita ? Ya, tadi. Sistem Kapitalisme. Maling sejati yang telah merampok berbagai macam dari negeri ini dengan begitu cantiknya. Dialah maling yang cantik dengan topeng yang penuh kilau, menyilaukan siapa saja yang berhadapan dengannya. Maling yang terlihat seperti malaikat, namun sebenarnya busuk dengan pemikiran serakah dengan pedoman hawa nafsu syaitannya. Masihkan kita buta dengan ‘Maling Cantik’ yang satu ini. Tanpa disadari atau tidak, orang-orang yang katanya sangat mencintai ibu pertiwi ini masih saja mempertahankan sistem Kapitalisme yang merajalela dan mengangkasa di bumi pertiwi tercinta. Mana bukti cintanya ? Bagaikan membiarkan orang yang ada di dalam rumah sendiri terbunuh satu persatu secara perlahan dengan datangnya ‘Maling Cantik’ yang selalu di berlakukan bagaikan tamu istimewa. Masih buta kah kita dengan maling ini ? Atau mungkin kita pura-pura buta ? Selamanya, ibu pertiwi ini tak akan dinaungi kesejahteraan apabila para pemeliharanya membiarkan maling terus menggerogoti rumah tangganya sendiri. Sistem Maling ini perlu kita apakan ? Gebukin rame-rame ? Di usir ? Di adili ?…Ya. Maling semangka aja kena hukuman penjara 3 bulan, maling ayam aja di gebukin rame-rame. Apalagi maling yang telah mencuri semuanya dari ibu pertiwi tercinta ini ? Kita memang sudah terlalu sombong saat ini. Hidup kita telah terdikotomi(mensekatkan/memisah) antara kehidupan sosial dengan keterikatan kita kepada hukum Allah. Kita dengan bangga dan sombongnya mencampakkan hukum-hukum Allah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa mengurangi rasa hormat, untuk apa kita setiap hari Senin  (SMA, SMP, SD) melaksanakan upacara dengan menghormati bendera dan mengenang jasa pahlawan kita tetapi tanpa kita sadari kita telah menggadaikan iman kita sendiri dengan merelakan diri diatur oleh hukum selain hukum Allah ?

            

            Al Izzatul fil Islam. Hanya Islam rahmat bagi sekalian alam, Islam is the only one solution. Tak ada yang lain. Islam lah yang akan mengusir para maling-maling yang menyengsarakan umat. Islam lah yang akan melepaskan belenggu syaitan yang telah menjadi pedoman bagi si ‘Maling Cantik’ dalam kehidupan kita. Tiada kesempurnaan tanpa naungan Islam, hanyalah Islam yang dapat menjadi kunci dalam mengatasi berbagai problema umat. Jadi, sudah jelas… siapa maling cantik tersebut ?

 

“Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar, agama adalah asas dan kekuasaan adalah penjaganya  maka sesuatu yang tidak ada asas akan hancur, dan sesuatu yang tidak dijaga pasti hilang.

(Imam al-Ghazali)

“Ngomong-ngomong. Perkenalkan nih…nama sandal jepit saya yang hilang di masjid kemarin.”

“eh..Siapa namanya ?”

“NIPON…”..

Masihkan kita bangga dengan tradisi maling ini ?

We were given so many prizes

We changed the desert into oasis
We built buildings of different lengths and sizes
And we felt so very satisfied
We bought and bought
We couldn’t stop buying
We gave charity to the poor ’cause
We couldn’t stand their crying
We thought we paid our dues
But in fact

To ourselves we’re just lying
Oh

I’m walking with my head lowered in shame from my place
I’m walking with my head lowered from my race
Yes it’s easy to blame everything on the west
When in fact all focus should be on ourselves

About Najmi Wahyughifary

Make a better civilization

Posted on November 12, 2011, in Tulisan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: