“Catatan dari Australia.”

Sabtu 17 Desember, seperti yang dijanjikan Sir Philip (guru Bahasa Inggris saya), hari itu saya akan bertemu dan diskusi dengan seorang mahasiswa(eh ternyata mahasiswi) program doktoral (S3) dari Australia. Dalam hati sempat berpikir.

“Hah…gimana nih ? Bahasa Inggris saya gak bagus-bagus amat, jelek juga nggak (justifikasi).”

Namun bukan Bahasa Inggris-nya yang saya takutkan, melainkan bagaimana reaksi sang bule ketika harus berhadapan dengan ke’ganten’gan saya yang luar biasa apalagi kalo ngomong pake bahasa Inggris segala. hihihih

Pagi itu saya bergegas dari rumah menuju ke sekolah untuk menghadiri diskusi yang telah dijanjikan tersebut. Setelah sesampainya di sekolah, ternyata sekolah terlihat begitu padat dan jejal apalagi di sekitar mading, aula, dan kantor. Telisik punya telisik, kumpulan manusia ini sudah saya duga sedang menunggu-nunggu sebuah pengumuman antara hidup dan mati, tidak lain tidak bukan ‘Pengumuman Remedial’. Saya hanya acuh dengan apa yang terjadi di sekitar. Sebelum mencari Sir Philips, saya ternyata juga punya janji dengan pelanggan saya, untuk mengasih orderan buku yang saya jual.

“Eh…saya kelupaan….ternyata hari Sabtu, 17 Desember itu kan peringatan tahun baru Islam, 1433 H.”

Langsung saja pagi itu masuk ke aula, lagi-lagi saya harus rela menjadi pengamen panggilan. Menjadi korban kesengsaraan dari panitia setempat.Acara pun di mulai, saya dan satu rekan saya diminta mengisi acara di awal, sambil menunggu penceramah datang. Setelah selesai membawakan satu lagu yang rada kagak jelas, disambung aja dengan sambutan-sambutan (seperti biasa).

Ternyata penampilan yang saya harap itu adalah penampilan yang paling akhir dari saya, ternyata berbicara lain. Malahan saya dan teman saya kembali dipaksa oleh panitia setempat untuk tampil ngebawain satu lagi. Untungnya, saat itu saya dan teman saya udah siap dua lagu buat tampil ngamen ‘liar’ pagi itu.

“Terima kasih, semoga tembang nasyid dari kami bisa memberikan inspirasi dan manfaat bagi anda.”

Episode kegilaan saya tak sampai disini, penceramah tak kunjung datang juga. Panitia bingung, apalagi saya (yang bukan panitia). Tujuan dari penampilan kedua saya dan teman saya ini adalah untuk menutupi waktu acara karena sang penceramah belum tiba juga. Akhirnya, dengan nekatnya saya berdiri di depan panggung dan khalayak. Saya lihat kanan, kiri, depan dan belakang. Ternyata ada ibu-ibu guru disamping kanan saya yang melirik aneh ke saya, kemudian ada bapak-bapak guru dibelakang saya (diatas panggung) menyaksikan ke’nekat’an saya. Lagi-lagi, saya menjadi korban dari keterdesakan saya sendiri.

Situasi aula saat itu cukup gaduh, siswa-siswi mungkin terpesona dengan seorang anak ‘ganteng’ berdiri didepan mereka yang menyampaikan orasi ‘aneh’ didepan mereka.

“Kawan-kawan, sesuai dengan tema tahun baru Hijriyah kita kali ini. Ghirah itu semangat bro-sist. Sedangkan kaffah itu total alias menyeluruh. Jadi kita musti bersemangat dalam menjadi generasi muslim yang kaffah dong …alias generasi muslim yang total, gak setengah-setengah…”

Aula bertambah gaduh dengan aksi nekat saya, tak salah lagi…Nggak apa-apa lah…Mungkin ini kesempatan terakhir saya untuk menyalurkan hobbi insidential saya di sekolah ini.

“Nah…ngomong-ngomong total…Kayaknya, saya yakin nih…Masih banyak dari kita yang lebih bangga ngerayain tahun baru masehi daripada tahun baru kita sendiri, tahun baru hijriyah(islam). Betul tidakkk ??? (Aa Gym :mode on)”

Sontak seisi aula ricuh (ahh lebay banget…)

“Tuh…kan …kita gak bangga ama identitas kita sendiri sebagai muslim. Makanya, islam saat ini sedang sakit keras (umatnya, red), bro-sist. Islam saat ini gak jadi rahmatan lil alamin lagi, karena Islam diterapinnya gak kaffah/total sih…makanya kita musti total kalo mau jadi seorang muslim…Kalau kita analogikan, Islam tuh kan indah (kata ustadz ‘jemaah’), cantik, sempurna, dll. Tapi mengapa Islam tuh saat ini gak cantik ? Ayoo siapa yang tahu ? Jawabannya, karena kalo kita misalkan, Islam itu kayak wanita cantik, cantik seutuhnya. Namun, bayangkan ketika wanita cantik itu cuma kepalanya saja, atau cuma kakinya saja, atau cuma badannya saja…iiihhh..pasti serem kan…gak ada cantik-cantiknya sama sekali. Nah, begitu juga dengan Islam, gimana mau jadi rahmatan lil alamin, saat ini aja Islam dipakenya setengah-setengah…”

Lirik kanan, lirik kiri. Ibu-ibu guru juga lagi bingung ngelihat ocehan aneh saya (tahu ah..mutu atau gak mutu, ya ?).

“Sekarang…siapa yang bangga sama tahun baru islam/hijriyah siapa ? Ayo angkat tangan..!!”

Tiba-tiba aroma di aula mendadak bau asem…Upss…peace..becanda..Mungkin karena siswa-siswi di aula banyak yang belum mandi..hihih

“Saya…saya..” acungan tangan hampir setengah dari jumlah orang yang ada di aula.

“Siapa sekarang yang bangga sama tahun baru masehi…dan yang bakalan ngerayain akhir tahun ini ? Angkat kaki…Upss..angkat tangan maksud euykeee..ehhh, keceplosan deh..”

Ternyata masih ada dan banyak…Hati saya hanya bisa menangis, dengan bangganya ada-ada saja orang seperti ini. Namun apa daya..Toh, siapa saya ? Lagipula, saya cuma pribadi yang berlumur dosa dan maksiat.

Sang Penceramah sudah datang…

“Fyuhhh..Alhamdulillah…Beliau udah datang…”

Tanpa pikir panjang saya tutup orasi ubek-ubeksan saya kali itu.

“Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…”

***

Akhirnya aksi nekat saya di aula pagi itu sudah terlewati. Tapi mau dibuang kemana nih muka ? Selepas keluar dari aula, kayak selebritis saja, saya di lihatin dan diperhatiin banyak orang.. Ada apa ya ? Apakah mereka terbius dengan ke’ganteng’an saya atau mereka malah ketakutan sama cerita horor saya tadi “Wanita Cantik tak Berkepala” ? Kayaknya gak dua-duanya deh…

***

Saya harus segera menunaikan janji, saya telusuri seisi sekolah, mencari Sir Philips. Saya dijanjikan akan melakukan wawancara dengan salah seorang mahasiswa S3(doktoral) dari Australia..

Sir Philips ternyata ada di ruang tamu sekolah.

“Sir, gimana wawancara hari ini dengan mahasiswa yang dijanjikan kemarin ?”

“Oh iya, Najmi. Acaranya ditunda, nanti orangnya datang hari Senin. Jadi, hari ini tidak jadi..”

“Oh, ok, sir. Thank you, sir.” (alah…sok ngomong bahasa Inggris..)

***

Saya pun setelah itu memutuskan untuk pulang saja. Tak ada apa-apa yang mesti dikerjain.

***

Senin, 19 Desember 2011

Tepat pukul 07.30 pagi saya sudah stand by di sekolah…Karena hari ini saya punya 4 janji yang wajib ditunaikan semuanya pagi itu. Setelah menyelesaikan janji pertama (kepada kwan2 kelas), saya lanjutkan janji yang berikutnya untuk pergi ke mushala karena ada kewajiban yang telah dijanjikan beberapa hari sebelumnya.

Sebelum jam 9, saya harus menepati lagi janji saya untuk diskusi di perpustkaan tentang masalah workshop. Tak berapa lama, saya dipanggil teman saya…Hari ini janji saya kepada Sir Philip kemarin harus ditunaikan juga untuk wawancara dengan mahasiswa (mahasiswi ternyata) di lab multimedia sekolah.

Diskusi berjalan cukup panjang. Ada 5 teman saya juga yang mengikut diskusi kali ini.

Di awal saya sempat khawatir di depan pintu lab multimedia, “Gimana saya mau ngomong Bahasa Inggris mengenai Islam ? Takut-takut malah salah persepsi.”

Fakta berbicara lain, yang saya duga ternyata salah, saya kira saya akan melakukan wawancara/diskusi dengan mahasiwa dari Australia, melainkan dengan mahasiswi Indonesia yang kuliah S3 Australia yang melakukan risetnya di Banjarmasin.

“Alhamdulillah….”

Dijanjikan hari itu, tema yang diangkat adalah “Tayangan Islami yang menjamur di media di Indonesia”. Tapi, kekhwatiran tinggal lah kekhawatiran.

Diskusi berjalan cukup alot dan panjang, kebetulan di ruang tersebut ada 3 cowok (termasuk saya) dan 3 cewek, dan saat itu ada 3 anak KSI juga (saya, Ijul, dan satu akhwat).

Tenyata konfrontasi pemikiran terjadi, banyak yang digali pada kesempatan kali ini. Dari, indusri hiburan di Indonesia, kedok sinetron Islami, penyesatan aqidah umat melaui tayangan yang sok-sokan islami, sistem pertelevisian, pengaruh moral generasi bangsa, sampai ke sistem dalam media menjalankan semua ini. Saya pun cukup puas kali ini, paling tidak ini menjadi dakwah saya dalam menyampaikan kebenaran Islam yang saat ini cenderung ditutupi dan dikabur-kaburkan. Selesai diskusi bersama, dialog pagi itu pun berakhir tepat jam 11.30 pagi.

“Gini,ini sebenarnya cuma pertemuan yang pertama. Jadi, setelah ini kaka mau mewawancarai kalian satu-satu.” ucap mahasiswi tersebut.

Kami selama diskusi memanggil tersebut dengan panggilan ‘kaka’. Mengapa ? Walaupun S3 (doktoral) ternyata wanita satu ini masih muda, 29 tahun. Dan gaya pakaiannya pun kayak anak usia 20an.

Saya dan Ijul meminta untuk jadwal wawancara kami diundur menjadi besok saja. Karena ada sesuatu lagi yang harus ditunaikan. Sedangkan, 4 teman saya yang lainnya melaksanakan wawancara hari itu juga.

***

Selasa, 20 Desember 2011

Lagi-lagi saya harus menunaikan beberapa janji saya.

Pagi itu teman-teman kelas menunggu saya, karena saya membawa hal yang sangat berarti dalam hidup mereka. Muka sumringah mereka membahana ketika melihat kedatangan saya yang bercahaya ditambah backsounds ‘Begadang-Rhoma Irama’ (alah…sungguh lebay…)

“Pukul 08.50…perlombaan cerpen akan dimulai di ruang Bahasa Indonesia 2.” suara menggema di pengeras suara sekolah.

Namun, saya saat itu saya juga harus melakukan hal lain. Saya bilang ke salah seorang adik kelas saya, saya terlambat mengikuti lomba cerpen karena harus mengikuti pertandingan basket.

Hingga…Waktu itu pun tiba, saya terjatuh ketika bertanding basket. Setelah berdiri, kontraksi engkel kiri saya begitu kuat, saya paksakan berjalan untuk mengambil bola yang keluar. Ternyata, tak bisa menahan lagi. Saya rebahkan diri di samping lapangan. Saya lepas sepatu saya, engkel kiri saya bengkak dan terkilir cukup parah.

Dan saya kembali harus menunaikan janji saya walaupun kaki saya sakit luar biasa tak tertahan. Dengan langkah terpincang-pincang saya naiki tangga. Peluh keringat masih bercucuran di badan, sakit yang begitu kuat menyerang urat dan syaraf engkel. Saya tahan sekuat mungkin. Saya harus masuk ke ruang Bahasa Indonesia 2 untuk mengikuti lomba cerpen. Setelah masuk, saya diberi kertas kosong dan waktu yang tersisa hanya tinggal 50 menit lagi.

Cerpen-pun selesai dan untungnya, selesai sebelum waktu berakhir.

Langkah pincang, saya turuni tangga dengan kaki yang begitu sakit. Dan hari ini saya harus menunaikan janji saya yang terakhir, yaitu wawancara dengan mahasiswi S3 (doktor, dari Murdoch University, Australia). Janjinya, wawancara dimulai jam1 siang setelah shalat dzuhur. Setelah shalat dzuhur di mushala sekolah. Saya menunggu beliau di depan mading.

Wawancara kali ini saya banyak ditanyai mengenai Islam, saya membeberkan apa yang saya pelajari selama ini tentang aqidah, nilai, sistem tentang Islam. Kemudian saya pun diminta komentarnya mengenai media di Indonesia. Satu statement yang paling saya ingat yang keluar dari mulut saya adalah:

“Media adalah pembentuk opini masyarakat nomor 1.”

Wawancara berjalan cukup lama. Dan Ka Inaya (nihh..saya baru nyebutin nama beliau ya..) menanyai saya dengan sebuah pertanyaan penutup tentang masa depan saya, “Mau kuliah kemana ?”.

Saya simpan jawaban saya dalam hati…

***

Setelah selesai wawancara, ternyata ka Inaya memberikan saya kenang-kenangan. Sebuah amplop berisi voucher K*C (fast food, restoran)…..

Dalam hati:

“Lumayan…biarkan sakit kaki ini akan ditumpaskan dengan sakit yang jauh lebih parah di rumah teman saya malam ini.”

Malam penyiksaan itu pun tiba, di rumah saudara Elfan, engkel kiri saya dipijat. Sakit yang sungguh luar biasa. Hanya takbir yang bisa diucapkan sambil menahan sakit yang tak terhingga , dan tak lupa sesekali memegang bantal (hihihi)

“Allahu Akbar…”, pekikan takbir membahana di rumah Elfan, dalam kesakitan yang luar biasa.

About Najmi Wahyughifary

Make a better civilization

Posted on December 26, 2011, in Catatan Perjalanan, Tulisan and tagged . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Mantap kisahnya, Ka. Kapan-kapan ke Malang ya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: