Bunga Rampai Dakwah…

…Jalan ini tak seharum yang kau kira…

‘Oh bunga rampai, semerebak harum tak tercium..’

Geliatmu tak seindah langkah para pejuang  yang ‘kata’nya pejuang bangsa ini, bangsa Indonesia. Onakmu tak setegar kapal perang yang berlayar keukeuh di samudera yang penuh ombak. Durimu teramat tajam bagi mereka yang belum paham akan artinya sakit. Akarmu terlalu semu bagi mereka yang masih melihat dengan mata biasa bukan dengan mata hati yang telah DzatNya berikan. Pekikanmu terlalu pelan bagi mereka yang tak khawas dalam mendengarkan setiap petunjuk DienNya. Langkahmu terlalu berat bagi mereka yang hanya mempunyai dua kaki. Pukulan tanganmu terlalu lemah karena tanganmu penuh dengan kecintaan dan kasih sayang. Lisanmu terlalu biasa bagi mereka yang mengindahkan perkataanNya.

Layaknya sebuah catatan tahunan, sudah saatnya kira saya membuat sebuah catatan bunga rampai. Sebuah catatan memorial bagi siapa ? Bagi saya sendiri, bagi siapa saja yang telah menuliskan tintanya dalam lembaran episode catatan bunga rampai ini.

Bunga Rampai Dakwah SMA

“Pemuda aset  suatu bangsa…”

Kayaknya masyarakat Indonesia tidak asing dengan kalimat ini, dimulai dari orasinya Ir.Soekarno ketika memuji dan meninggikan kaum muda sampai sekarangpun geliat pemuda-lah yang menentukan kemajuan suatu bangsa.

Saya Najmi Wahyughifary, 17 tahun. Lahir di Banjarmasin, tumbuh dan besar di Banjarmasin. Saya saat ini bersekolah di SMAN 7 Banjarmasin. Dalam hemat saya, bangsa bukanlah sebuah ikatan yang jelas dalam benak saya. Karena proses belajar setiap tahap yang telah saya lalui dalam titian dakwah yang saya rasakan, melebihi apa yang ‘mereka’ bangga-banggakan dengan istilah ‘bangsa’.

Mengutip perkataan pertama, bahwa pemuda lah tonggak perubahan dan penerus estafet dalam perubahan khususnya, dakwah. Pemuda tentunya harus menyadari betul perannya dalam memberi dan unjuk bagian demi kehidupan saat ini yang makin memprihatinkan. Terkhusus bagi pemuda Islam.

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh yang ma’aruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran 110)

Tentunya, para pendakwah sudah tidak asing lagi dengan bunyi ayat ini. Sebuah motivasi, sebuah pujian, sebuah gelar yang disandangkan oleh Allah SWT kepada kita, umat Islam. Umat Islam adalah umat terbaik. Namun, saat ini sangat jauh dari yang diharapkan. Umat Islam saat ini dapat dikatakan adalah umat yang bodoh, terbelakang, miskin, menderita dan dijajah. Lihat saja, kira-kira yang banyak mengemis di pinggiran jalan kota besar apakah umat Islam atau bukan ? Lihat saja, di Timur Tengah, kayak di Palestina, Irak, dsb menderita dan masih terjajah oleh kaum kafir ? Masih pantas gelar ‘umat terbaik’ini disandangkan untuk umat Islam. Secara fakta, umat Islam ‘belum’ pantas disebut sebagai umat terbaik. Mengapa ? Karena umat Islam telah melupakan janji Allah dan terlebih lagi. Banyak dari umat Islam tidak lagi mengamalkan potongan ayat selanjutnya, bahwa untuk menjadi umat yang terbaik syaratnya adalah :”Menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah.”

Itulah mengapa sampai saat ini umat Islam belum bisa dikatakan sebagai umat terbaik. Karena kita tahu sendiri bahwa umat Islam tidak memakai dan menggunakan serta memenuhi syarat yang telah firmankan tadi.

Ta’aruf with Dakwah

Saya adalah sulung dari 3 bersaudara, saya menghabiskan masa kecil di lingkungan Mesjid Jami bersama almarhumah nenek saya, yang seorang mubalighah di daerah Mesjid Jami. Salah satu mesjid terkenal di kota Banjarmasin karena geliat dakwah yang sangat kental disana. Saya merasa cukup beruntung bisa hidup dilingkungan seperti ini. Namun, tetap saja lingkungan yang tidak baik masih kontras terjadi di lingkungan sekitar Mesjid Jami. Saya pertama kali mengenal gerakan dakwah pada saat saya kelas 3 SMP, karena saat itu saudara sepupu saya yang duduk di bangku SMA merupakan salah satu aktifis dakwah di sekolahnya dibawah naungan KSI (Kelompok Studi Islam). KSI di Banjarmasin cukup terkenal di beberapa sekolah favorit di Banjarmasin, seperti SMAN 7 Banjarmasin (sekolah saya), ada SMAN 1 Banjarmasin, SMAN 3 Banjarmasin, serta beberapa sekolah lain. KSI merupakan sebuah lembaga dakwah sekolah yang cukup lama eksistensinya dan perannya dalam kemajuan dakwah khususnya dikalangan pelajar SMA yang semakin jauh dari kehidupan Islam.

Saat ini saya duduk di kelas 12 atau kelas 3 SMA, sudah berada di penghujung masa SMA. Mungkin disini saya hanya ingin berbagi mengenai perjalanan dakwah sekolah saya, khususnya selama 3 tahun saya berkecimpung dalam urusan dakwah dan syiar Islam.

Saya sendiri berkecimpung dalam banyak organisasi di sekolah maupun di luar sekolah, sampai saat ini saya masih aktif sebagai Pembina adik kelas saya di KSI Al Furqan SMAN 7 Banjarmasin, sebelumnya saya menjabat sebagai Kepala Divisi Pembinaan KSI Al-Furqan SMAN 7 Banjarmasin periode (2010-2011). Selain itu di periode yang sama saya merangkap sebagai Ketua OSIS SMAN 7 Banjarmasin. Untuk di luar sekolah, saya bergabung dengan Muslim Drenalin, FKKSI, serta LDS HTI (Lembaga Dakwah Sekolah Hizbut Tahrir Indonesia).

Di awal perjalanan dakwah, layaknya seorang remaja sayapun mencari jati diri dalam dakwah. Suka duka yang wajib dihadapi seakan menjadi kemasan indah bagi saya didepan nanti. Banyak hal yang telah saya dapatkan dan alami, dari menyebarkan bulletin KSI, mengisi pengajian di kelas ke teman-teman mengenai pentingnya Islam, bikin acara/event, bikin diskusi dan seabreg langkah jitu telah saya rasakan di dakwah sekolah. Memang rata-rata, terutama di sekolah negeri yang haluannya cenderung sekuler, hampir sulit sekali dalam mendakwahkan Islam ke pelajar. Namun, itulah tantangannya. Saya pun sempat merasakan getir pahit ketika saya berkecimpung di OSIS, saya berjuang keras agar bisa merubah paradigma dan pemahaman yang buruk yang selama ini ada, khususnya di sekolah saya terutama di OSIS. Saya bertemu dengan orang-orang yang majemuk dan harus bekerja sama dengan mereka. Inilah getirnya dakwah, sering terjadi konfrontasi dalam dakwah saya khususnya di lingkup OSIS yang sebenarnya punya pengaruh lebih kuat dibandingkan KSI yang ada di sekolah saya. Satu periode yang cukup melelahkan dan cukup pahit ketika dakwah harus menghadapi batu dan tembok keras. Saya sebagai aktifis KSI mesti dibarengi dengan dakwah saya secara meluas di OSIS telah menjadikan diri saya lebih terpacu lagi dalam berjuang.

Saya selalu ingat dengan perkataan salah seorang musyrif saya, waktu saya baru bergabung dengan KSI Al Furqan SMAN 7 Banjarmasin, beliau membacakan satu ayat:

“Wahai orang-orang beriman, jika kalian menolong agama Allah. Niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” Q.S. Muhammad 7.

Ayat ini selalu menghiasi setiap langkah dakwah saya selama satu tahun di kelas 10, dengan aktifitas yang padat namun penuh hikmah, kemudian kelas 11 yang penuh cobaan dan tantangan(karena di kelas 11 lah semua organisasi berada di pundak). Hingga saat ini saya duduk di kelas 12 saya masih ingin setia dengan jalan ini. Untuk sementara memegang dua buah KBI (Kelompok Belajar Islami) untuk adik kelas 10 dan beberapa adik kelas 11. Sayapun masih menjaga dan memegang serta membimbing beberapa adik kelas saya yang sudah menjadi petinggi di OSIS, bahkan beberapa sudah saya masukkan menjadi syabab. Saya bersyukur walaupun masa kelas 11 merupakan masa yang paling tidak mengenakkan karena disitulah penurunan dan futur dakwah terjadi di dalam lingkungan dakwah saya (banyak teman saya yang berjatuhan). Hal itu kini telah menjadi pelajaran berharga bagi hidup dan bekal dalam dakwah saya kedepan nantinya. Kini, saya berharap eksistensi dakwah yang saya perjuangkan kurang lebih 3 tahun di sekolah saya ini akan menjadi catatan saya kelak di yaumul akhir.

 

Mungkin dakwah yang saya lakukan tak terlalu banyak menghasilkan perubahan. Karena saya sendiri menyadari bahwa aktifitas dakwah saya ini tidak sebanding dengan perjuangan dakwah yang ada diluar sana, apalagi perjuangannya dakwah Rasul serta sahabat. Bahkan sangat jauh…Kini hanya tinggal beberapa bulan saja lagi saya bersekolah disini (3 bulan, siap UN). Sekolah yang telah menjadi medan perang bagi saya. Layaknya perang, saya telah mencicipi panasnya peluru, desingan pedang, ributnya teriakan perang, sakitnya ketika terjatuh, disisi lain bangkit tanpa  rasa lara. Itulah perjuangan. Dan satu hal yang saya yakini:

Eksistensi dakwah akan selalu tetap menyala walaupun tanpa saya. Namun, saya bukanlah seorang yang bodoh yang hanya mau jadi penonton apalagi penghalang dalam menegakkan benang-benang kemenangan yang telah Allah janjikan.”

Dakwah sekolah, medang perang yang begitu indah dan penuh hikmah. Saya pun harus bersiap untuk berpindah ke medan selanjutnya. Mohon maaf apabila ada kekurangan dalam tulisan dan cerita seputar pengalaman saya dalam dakwah sekolah, mungkin saya tidak bisa menceritakan dengan jelas. Namun, terlepas dari itu tujuan saya hanya ingin memberikan inspirasi kepada kawula muda bahwa memilih adalah sebuah kepastian. Mau taat dan berjuang ? Mau maksiat dan sewenang-wenang ? Atau diam saja ? Semuanya pilihan kita.

Mohon doanya agar saya tetap istiqamah. Saya masih seorang remaja yang masih goyah imannya. Saya mohon doa agar Allah menjaga seluruh indera dan hati saya karena saya pun mudah tergoda. Saya berdoa agar janji Allah akan segera terjemput ditangan kita semua. Aamiin ya rabbal alamin.

*Mohon doanya dalam menghadapi UN dan bisa masuk Universitas yang saya citakan.

Semoga dakwah tetap menjadi ruh yang tak akan lepas hingga ruh meninggalkan jasad.

Najmi Wahyughifary

SMAN 7 Banjarmasin

http://www.najmialghifary.wordpress.com

*Artikel untuk http://www.syabab.com

About Najmi Wahyughifary

Make a better civilization

Posted on January 6, 2012, in Catatan Perjalanan, Karet Romantia, Tulisan, udahtaunanya. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. aamiin yaa Robb .. semangat ding !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: