Oh Abu Dzar Al Giffari ! Part 2

         Maybe, we don’t try to find something what the heart see. Why we always seldom to make something that shake the world ? Our world. Make a movement !Sosok ini begitu luar biasa bagi diri ini. Terkenal karena kegilaan dan keberaniaannya,  hingga akhir hayatnya dia meninggalkan jasadnya dalam keadaan terasing.

  Pengenalan

Abu Dzar al-Ghiffari R.A. sebelum memeluk  Islam adalah seorang perompak para kabilah di padang pasir, berasal dari suku Ghiffar yang terkenal dengan sebutan binatang buas malam dan hantu kegelapan. Hanya dengan hidayah Allah akhirnya ia memeluk Islam (dalam urutan kelima atau keenam), dan lewat dakwahnya pula seluruh penduduk suku Ghiffar dan suku tetangganya, suku Aslam mengikutinya memeluk Islam.
Disamping sifatnya yang radikal dan revolusioner, Abu Dzar ternyata seorang yang zuhud (meninggalkan kesenangan dunia dan mengecilkan nilai dunia dibanding akhirat), bertaqwa dan wara’ (sangat hati-hati dan teliti). Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidak ada di dunia ini orang yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar”, dilain kesempatan beliau bersabda,“Abu Dzar — diantara umatku — memiliki sifat zuhud seperti Isa ibn Maryam”.

Abu Dzar yang terkenal sebagai salah seorang daripada empat ‘tiang’ kelompok Ali bin Abi Thalib yang merupakan  suatu ‘tanda bermakna’ tentang seorang Muslim yang komitmen , tegar, revolusioner, yang menyampaikan pesan persamaan, persaudaraan, keadilan dan pembebasan. Ali Shari’ati, seorang tokoh sosiolog-politikus dunia Islam, dalam salah satu tulisannya dengan bangga mengatakan bahwa “Abu Dzar adalah leluhur segenap mahzab egaliter pasca-revolusi Perancis”.

Abu Dzar berasal dari dari suku Ghiffar yang tinggal di daerah yang dilalui oleh kafilah-kafilah dagang. Sebelum Islam, dia adalah pemuka perompak Ghifari. Tetapi berbeda dengan perompak-perompak lain, etika Abu Dzar dalam merompak mirip lagenda Robin Hood dalam masyarakat Inggeris. Dia hanya merompak pengusaha-pengusaha multinasional yang kaya, yang kemudian hasil rompakannya dibahagikan kepada orang-orang miskin. Ketika Anis, saudaranya pulang dari Makkah, dia melapor bahawa: “Aku bertemu dengan seorang Nabi yang menganut agama seperti kamu”. Maka berangkatlah Abu Dzar ke Makkah dan dia beriman melalui Sayidina Ali. Dia berbai’ah kepada Nabi: “Aku berjanji akan mengatakan kebenaran walaupun pahit”.

Sumpah Abu Dzar: “Aku berjanji akan mengatakan kebenaran walaupun pahit” adalah bukan sekadar sumpah di mulut saja. Sumpah Abu Dzar tidaklah sama dengan janji-janji para politikus yang kadang-kala hanya digunakan untuk tujuan politik untuk mencapai kekuasaan. Sumpah Abu Dzar juga lain dengan suara pemimpin mahasiswa yang kadang-kala diucapkan hanya sebagai simbol untuk melegitimasi ‘agenda’ mahasiswa sebagai ‘agent of change’. Sumpah seorang Abu Dzar adalah sumpah seorang penganut ideologi yang bersedia untuk syahid demi tertegaknya kebenaran. Abu Nu’aim menceritakan pribadi Abu Dzar dengan puitis:

Khadimar Rasul,

wata’allamal ushul,

wa nabad zal fudhul

(Dia mengabdi kepada Rasul mulia, belajar dasar-dasar agama, dan melemparkan kemegahan dunia)

Pernah suatu hari Abu Dzar berkata di hadapan banyak orang, “Ada tujuh wasiat Rasulullah SAW yang selalu kupegang teguh:

1. Aku disuruhnya agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri dengan mereka.

2. Dalam hal harta, aku disuruhnya memandang ke bawah dan tidak ke atas (pemilik harta dan kekuasaan)).

3. Aku disuruhnya agar tidak meminta pertolongan dari orang lain.

4. Aku disuruhnya mengatakan hal yang benar seberapa besarpun resikonya.

5. Aku disuruhnya agar tidak pernah takut membela agama Allah.

6. Dan aku disuruhnya agar memperbanyak menyebut ‘La Haula Walaa Quwwata Illa Billah’.  “Dipinggangnya selalu tersandang pedang yang sangat tajam yang digunakannya untuk menebas musuh-musuh Islam. Ketika Rasulullah bersabda padanya, “Maukah kamu kutunjukkan yang lebih baik dari pedangmu? (Yaitu)
Bersabarlah hingga kamu bertemu denganku (di akhirat)”,

maka sejak itu:

7. Ia mengganti pedangnya dengan lidahnya yang ternyata lebih tajam dari pedangnya.

Dengan lidahnya ia berteriak di jalanan, lembah, padang pasir dan sudut kota menyampaikan protesnya kepada para penguasa yang rajin menumpuk harta di masa kekhalifahan Ustman bin Affan. Setiap kali turun ke jalan,
keliling kota, ratusan orang mengikuti di belakangnya, dan ikut meneriakkan kata-katanya yang menjadi panji yang sangat terkenal dan sering diulang-ulang, “Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak. Mereka akan diseterika dengan api neraka, kening dan pinggang mereka akan diseterika dihari kiamat!”

Teriakan-teriakannya telah menggetarkan seluruh penguasa di jazirah Arab. Ketika para penguasa saat itu melarangnya, dengan lantang ia berkata, “Demi Allah yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya! Sekiranya tuan-tuan sekalian menaruh pedang diatas pundakku, sedang mulutku masih sempat menyampaikan ucapan Rasulullah yang kudengar darinya, pastilah akan kusampaikan sebelum tuan-tuan menebas batang leherku”

 

Di Zaman Ke Khalifahan Ustman bin Affan

Sepak terjangnya menyebabkan penguasa tertinggi saat itu Ustman bin Affan turun tangan untuk menengahi. Ustman bin Affan menawarkan tempat tinggal dan berbagai kenikmatan, tapi Abu Dzar yang zuhud berkata, “aku tidak butuh dunia kalian!”.

Pada zaman Utsman, dia melihat sebahagian dari ruling elite Jahiliyyah tampil kembali. Marwan bin Al-Hakam, yang pernah diusir Nabi SAW dari Madinah, menjadi Setiausaha Negara. Muawiyah, putra Abu Sufyan, menjadi gubernur di Syria. Sementara itu, kekayaan hanya dibahagikan kepada keluarga penguasa. Al-Walid bin Uqbah, yang disebut fasiq dalam Al-Qur’an diberi 100,000 dirham. Mahzur, pusat perdagangan yang dahulunya milik bersama, sekarang diserahkan kepada satu tangan saja, yakni Marwan bin Al-Hakam. Ladang rumput yang dahulunya boleh dimasuki oleh ternakan siapapun sekarang dimonopoli oleh Bani Umayyah.
Di Syria dilihatnya juga bahwa Muawiyah telah menjadi majikan kepada harta baitulmal dan juga atas kehidupan dan milikan rakyat. Dia melihat Muawiyah menghambur-hamburkan harta baitulmal, melesapkan bantuan untuk kaum Muslimin dan membunuh orang sesukanya.

Sementara itu di sisi lain dia melihat bahwa rakyat dan para pejuang zaman Rasulullah hidup dengan sengsara. “Sampai ada salah seorang di antara mereka yang bergolok-gadai, hanya sekadar untuk membeli beberapa potong roti…” tulis Al-Husaini dalam bukunya, Imam Al-Muhtadin.

Semua ini membuatkan Abu Dzar marah. Dia kemudian teringat akan pesanan Nabi SAW: “Hai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu apabila berjumpa dengan penguasa yang mengambil ufti untuk dirinya dari kedudukannya?”. “Demi Allah yang mengutus anda ya Rasulullah, akan aku tebas mereka dengan pedangku”, kata Abu Dzar. Nabi SAW memberi nasihat, “Aku tunjukkan cara yang lebih baik. Bersabarlah sampai engkau berjumpa denganku”. Bagi Abu Dzar, bersabar adalah bukan bererti diam. Kerana bagi Abu Dzar kebenaran yang bisu adalah bukan kebenaran. Baginya kebenaran adalah mengatakan sesuatu yang hak dengan terus-terang dan menentang yang batil.

Mengingatkan wasiat Nabi di atas, Abu Dzar bangkit dengan tidak menghunus pedang, tetapi dengan menyampaikan kontrol sosial. Abu Dzar meminta kepada orang yang berkuasa untuk berlaku adil terhadap rakyat miskin yang telah kehilangan hak-haknya. Dia juga mendorong masyarakat untuk merebut hak mereka dan memberantas kemiskinan yang mendekatkan diri kepada kekufuran. Dia juga melakukan demonstrasi-demonstrasi dan tunjuk perasaan menentang kezaliman penguasa.

Ketika melihat Abu Darda sedang membangunkan rumah mewah, Abu Dzar memperingatkan, “Engkau angkut batu-batu di atas tengkuk orang lain”. Kemudian pernah suatu hari, Abu Dzar hadir di majlis khalifah. Khalifah bertanya: “Setelah menyerahkan zakat, apakah masih ada kewajiban lain?”. Kata Kaab: “Tidak, cukuplah dengan zakat itu.” Abu Dzar kemudian memukul dada Kaab: “Engkau dusta, hai anak Yahudi. Allah berfirman: Bukanlah kebaikan itu menghadapkan wajahmu ke Barat atau ke Timur. Kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab, dan para nabi. Memberikan harta yang dicintainya kepada keluarga dekat, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, para peminta, para tawanan,…”. (Al-Baqarah 177). Ketika khalifah bertanya bolehkah khalifah menggunakan harta kaum muslimin sekehendaknya, Kaab menjawab boleh. Abu Dzar marah dan kemudian memukulkan tongkatnya ke dada Kaab. Dia akhirnya diperintahkan pergi meninggalkan Madinah, dan diusir ke Syria.

Di Syria ketika Muawiyah membangunkan istana megah Al-Khadhra, Abu Dzar setiap hari berteriak di depan pintu gerbangnya: “Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, khabarkan kepada mereka siksaan yang pedih. Kemudian kepada Muawiyah, dia berkata: “Kalau rumah ini engkau bangunkan dengan hartamu sendiri, engkau berlebih-lebihan. Kalau engkau bangun ini dengan harta rakyat, sesungguhnya engkau khianat”.

Kerana aksi-aksinya ini Abu Dzar dianggap telah mengganggu keamanan. Dan menimbulkan resah masyarakat. Oleh karena itu, banyak tindakan-tindakan represif yang dilakukan oleh pemerintahan Bani Ummayah terhadapnya. Mereka tidak mengizinkan Abu Dzar untuk bergaul dengan rakyat. Atas perintah Uthman, Muawiyah pernah berkata kepada sahabat besar Nabi ini: “Wahai musuh Allah! Engkau menghasut orang menentang aku dan berbuat sesukamu. Apabila aku ingin membunuh sahabat Nabi tanpa izin khalifah, engkaulah orangnya”. Abu Dzar menjawab: “Saya bukan musuh Allah atau NabiNya. Justru engkau dan ayahmu yang menjadi musuh Allah. Kamu berdua masuk Islam secara lahiriah, sementara kekafiran masih tersembunyi dalam hati kamu”.

Menghadapi onarnya di Syria, Utsman memerintahkan Muawiyah untuk mengirim Abu Dzar ke ibukota. Muawiyah kemudian menuruti perintah Utsman. Abu Dzar diikatkan di atas unta yang pelananya tidak diberi alas. Ketika sampai di Madinah sebahagian pahanya tergelupas, dan punggungnya pun cedera. Dalam perjalanan dari Damsyik ke Madinah, dia dikawal oleh para tentera.

Ketika Utsman melihat Abu Dzar, dia memprotes kegiatan sahabat Nabi ini. Abu Dzar menjawab: “Saya mengharapkan kebaikan dari anda, tetapi anda malah menipu saya. Begitu juga, saya mengharapkan kebaikan teman anda (Muawiyah) tetapi dia pun menipu saya”. Uthman berkata: “Engkau pembohong. Engkau hendak menimbulkan kerusuhan. Engkau menghasut seluruh rakyat Syria menentang kami”. Abu Dzar menjawab dengan tenang: “Anda harus mengikuti langkah-langkah Abu Bakar dan Umar. Apabila anda berbuat demikian tidak akan ada orang yang mengatakan sesuatu terhadap anda”. Utsman menjawab: “Semoga ibumu mati! Apa hubungan anda dengan urusan ini”. Abu Dzar menjawab: “Sepanjang berkaitan diri saya, tidak ada pilihan selain menyuruh manusia berbuat baik dan mencegah mereka dari kejahatan”. Perseteruan antara keduanya semakin menjadi serius. Abu Dzar menuduh ketundukan Utsman kepada keinginannya sendiri sebagai ketidaktaatan kepada Allah dan tidak adil kepada makhlukNya. Utsman sangat tersinggung lalu berteriak: “Wahai manusia! Katakan padaku apa yang harus dilakukan terhadap pembohong tua ini. Apakah aku harus memukulnya, membunuhnya atau membuang dia dari wilayah Islam? Dia telah menciptakan perpecahan di kalangan kaum muslimin”. Pada saat itu Sayidina Ali sedang berada di sana. Dia berpaling kepada Utsman dan berkata: “Saya pernah mendengar Nabi Suci SAW bersabda bahawa tidak ada seorang pun di bawah kolong langit ini yang lebih jujur selain daripada Abu Dzar”.

Pada suatu ketika timbul gagasan Utsman untuk berdamai dengan Abu Dzar. Dia mengirimkan dua ratus keping uang emas kepada Abu Dzar untuk keperluan hidupnya. Abu Dzar bertanya kepada orang yang membawa uang tersebut: “Apakah Utsman memberikan jumlah uang yang sama kepada setiap muslim?”. Orang tersebut mengatakan tidak. Abu Dzar mengembalikan wang tersebut seraya berkata: “Saya termasuk anggota umat Islam dan oleh karena itu maka saya hanya harus mendapatkan jumlah yang sama dengan orang lain”. Tatkala dia menolak uang itu, dia tidak mempunyai apa-apa di rumahnya selain sekerat roti kering.

Akhirnya Utsman memutuskan untuk menghukum Abu Dzar. Pertamanya dia ingin menyerahkan Abu Dzar kepada pembunuh upahan. Tetapi, setelah dia berfikir lagi, akhirnya dia memutuskan untuk membuang Abu Dzar ke padang pasir Rabadzah yang tandus yang tidak dihuni oleh manusia, haiwan mahupun ditumbuhi tanaman. Ketika saat keberangkatan Abu Dzar tiba, Utsman melarang masyarakat menyaksikan pemergiannya. Akhirnya tidak ada yang berani menghantarnya kecuali lima orang, iaitu Sayidina Ali, saudaranya Aqil, Hasan, Husein dan Ammar bin Yassir. Tanggungjawab pengawasan dan keberangkatan Abu Dzar diserahkan kepada Marwan. Dengan lancang Marwan mencegah Ali dan teman-temannya menemui Abu Dzar. Ali memarahinya dan memukul kudanya dan berteriak: “Pergi jauh dari sini! Semoga Allah melemparkan anda ke dalam neraka”.

Ali dan keluarganya menghantarnya ke pinggir kota. Kemudian dia mengucapkan selamat berpisah kepada Abu Dzar dengan berkata: “Wahai Abu Dzar, anda marah kepada orang-orang ini karena Allah. Karena itu maka anda hanya harus mengharapkan ganjaran dari Dia saja. Mereka takut kepada anda karena kegiatan anda dapat menyebabkan mereka kehilangan dunia (kesenangan dunia), dan anda membimbangkan mereka karena anda hendak menjaga keimanan anda. Lihatlah betapa mereka memerlukan agama yang atasnya anda tidak mengizinkan mereka berbuat seenaknya, dan lihatlah betapa merdekanya anda dari dunia yang atasnya mereka rebut hak anda. Akan anda ketahui nanti (di hari pembalasan) siapa yang menjadi pemenang dan siapa yang iri hati. Meskipun seseorang dihindarkan dari bumi dan langit, apabila dia bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah pasti akan membukakan jalan baginya. Anda akan selalu mencintai kebenaran dan menjauhi kebatilan. Apabila anda juga menerima dunia mereka maka mereka akan menyukai anda, dan jika anda berhutang pada dunia ini maka tentulah mereka sudah menyediakan perlindungan bagi anda”. (Nahjul Balaghah). Abu Dzar hanya membalas dengan linangan air matanya. “Kalian mengingatkan aku kepada Rasulullah”, kata Abu Dzar.

Menjelang Kematian Sang Penegak Kebenaran

Di sana dalam pengasingannya, di tanah gersang Rabadzah, dia kelaparan bersama isteri dan anaknya. Seperti nubuwwat Nabi SAW yang mengatakan:

“Hai Abu Dzar, engkau datang sendirian, engkau hidup sendirian, engkau bakal mati sendirian juga. Tetapi serombongan orang Iraq yang saleh kelak akan mengurus pemakamamanmu”, maka dia pun meninggal dalam pengasingan.

Diberkatilah Abu Dzar yang bangkit dan berusaha menegakkan kebenaran sampai nafasnya yang terakhir. Dia mati karena setia kepada bai’atnya. Dia mati karena mempertahankan keyakinannya.

Akhir hidupnya sangat mengiris hati. Istrinya bertutur, “Ketika Abu Dzar akan meninggal, aku menangis. Abu Dzar kemudian bertanya, “Mengapa engkau menangis wahai istriku? Aku jawab, “Bagaimana aku tidak menangis, engkau sekarat di hamparan padang pasir sedang aku tidak mempunyai kain yang cukup untuk mengkafanimu dan tidak ada orang yang akan membantuku menguburkanmu” .

Namun akhirnya dengan pertolongan Allah serombongan musafir yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud R.A. (salah seorang sahabat Rasulullah SAW juga) melewatinya. Abdullah bin Mas’ud pun membantunya dan berkata, “Benarlah ucapan Rasulullah! Kamu berjalan sebatang kara, mati sebatang kara, dan nantinya (di akhirat) dibangkitkan sebatang kara”.

Tidakkah kalian berfikir bahwa seorang pejuang yang zuhud dan wara serta ahli ibadah tidak pernah takut terhadap penguasa untuk menegakkan kebenaran,  dialah Abu Dzar Al Giffari yang mengatakan Kebenaran Illahi terhadap siapaun, Apakah ada keteladan Abu dzar  yg ditiru dan diikuti oleh pemimpin bangsa saat ini ?

Semoga ini menjadi refleksi yang cantik bagi kita….

About Najmi Wahyughifary

Make a better civilization

Posted on February 13, 2012, in Tulisan. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. suapri al giffari

    MASYA Allah…sungguh mulia tauladan beliau…semoga setiap Umat Islam adalah ‘abu zar-abu zar baru”…Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: