“Universitas Kehidupan”

Pagi buta saya hela nafas untuk sedikit demi sedikit bangun dari peraduan, mata sayup ditambah gelapnya kamar semakin membuat langkah menjadi gemetar. Pagi yang dingin serta baju yang tipis semakin mengelakkan rusuk-rusuk yang tertusuk. Dari beberapa hari yang lalu saya sudah mengemas berbagai barang saya, mulai dari pakaian, buku, maupun perlengkapan lainnya. Tak elak kiranya pagi buta itu tanpa dibasahi wudhu yang diiringi dengan amalan yang berkualitas nan bermutu.

Tak salah kiranya pagelaran sepakbola menjadi magnet yang melenakan sebagian kaum muslimin, lupa akan indahnya seruan di tengah malam. Rela menonton, begadang ria, canda gurau, dan esok paginya tertidur melewatkan apa-apa yang sebenarnya jadi prioritas. Sebelum itu, saya biarkan badan ini tertuang dengan selimut dingin yang bernama air. Tak salah kiranya, apa kata orang-orang terdahulu.

“Mandi pagi itu bagus, Nak. Apalagi sebelum shubuh atau kalau mau tahajud.” ingat saya dengan salah satu perkataan seseorang yang saya anggap jauh tua.

Dingin memang, tusukan air itu terbiasakan dengan seiiring berjalannya roda kehidupan di perhelatan dan perjuangan di universitas kehidupan. Beberapa selang waktu, adzan shubuh berkumandang di mesjid dekat rumah. Tak nampak jemaah yang membludak dibanding dengan jumlah warga yang tinggal disini. Terlalu jauh perbandingannya, tak satupun terlihat ada muka muda. Dan mungkin sudah pasti bisa ditebak, semua jemaah rata-rata berusia tua alias lanjut semua. Apakah yang tua saja yang lebih dekat dengan ‘kematian’ ? Apakah yang tua saja yang harus mempersiapkan bekal sebelum kematian ? Pertanyaan terus tertumpuk dikala itu menyerebak ke medan pikiran.

Sayang seribu sayang, tak terlihat ada satupun pemuda di mesjid ini. Saya hanya bisa tersenyum dengan air muka para bapak-ibu jemaah mesjid ini. Di usia senja mereka penuh terpancar kekuatan ibadah yang berkualitas nan ikhlas. Setelah pulang dari sholat subuh di mesjid, saya biasanya ngobrol sambil jalan kaki dengan salah seorang bapak jemaah mesjid yang juga tetangga dekat saya. Biasanya, bapak itu sering menanyakan masalah akademik saya, mau kuliah dimana, nilai UN dan UAS nya gimana, mau ngambil jurusan apa, dan sebagainya. Maklum lah, beliau bertanya dengan sesuai bidang beliau, guru. Saya sangat terbantu dengan semua percakapan dan perbincangan yang beliau sampaikan. Saya memahami bahwa hidup itu adalah proses belajar, tak hanya di sekolah, di tempat bimbingan, ataupun di majelis ilmu saja kita dapat belajar. Melainkan, dari kehidupan inilah semuanya adalah proses belajar. Dimulai dari kita memberi senyuman kepada orang lain, kita menyapanya, memberi salam, mengajak bicara, memahami apa yang dia sampaikan, itu semua adalah proses pembelajaran.

Oh iya, saya besok pagi harus segera berangakat ke bandara sebelum adzan shubuh. Seperti biasa, pagi buta memulai aktifitas. Tas penuh bawaan yang telah saya siapkan beberapa hari sebelumnya siap tuk dibawa. Maklum, perjalanan kali ini memang agak sedikit berbeda. Karena saya harus pindah domisili dari kampung halaman menuju perantauan. Pukul setengah lima pagi sudah berangkat dari rumah, dan kira-kira 30 menit tiba di bandara. Menegakkan kewajiban, shalat shubuh tak elak dituntaskan. Meminta yang terbaik dari yang Maha Baik, Sang Pemilik Segala sumber Kebaikan, Allah SWT.

Sekitar satu setengah jam perjalanan ditempuh dari kampung halaman menuju perantauan. Pukul 8 pagi waktu setempat, saya langsung mencari angkutan umum untuk menuju ke tempat teman saya.

“Mau kemana dek ? Mahasiswa baru ya ?” hela sang sopir.

Dengan air muka tenang saya jawab. “Iya, Pak. Saya mau ke wilayah kampus UGM.”

“Ke wilayah mana, dek ?”

Saya tak tahu nama wilayah disitu satupun, dan akhirnya saya menelpon teman saya yang memang sudah kuliah disini. Dan sebuah jawaban sudah terlontar.

“Antarin ke Pogung Dalangan, Pak.” ucap saya.

“Ayo, saya angkat barang-barangmu !” balas sang sopir.

Saya pun ikut mengangkat barang bawaan yang cukup banyak kedalam bagasinya. Tak berapa lama, sayapun dibawa sang sopir dengan mobilnya.

“Kamu dari mana,dek ?” ucap sang sopir.

“Banjarmasin, Pak. Kalimantan Selatan.” jawab saya.

“Kuliah ya ? Kuliah dimana ?” tanya sang sopir.

“Iya, pak. Saya baru mau kuliah di UGM.” kembali saya jawab.

“Wahhh…sulit kalau masuk disitu…” ucap sang sopir.

Sang sopir begitu panjang lebar bercerita masalah UGM, sulitnya masuk UGM, dan hal-hal yang berhubungan dengan kuliah disana. Hanya bisa mengangguk sesekali berkata ‘ya’ atas semua pembicaraan sang sopir.

“Wahh….kamu disini musti bener-bener disini. Kamu itu musti hati-hati jangan sampai kamu yang terbawa suasana, tapi kamu yang musti mengendalikan suasana. Banyak toh, anak yang malahan kebawa suasana. Akhirnya, kuliah amburadul, uang orangtua habis tak karuan, kerjaannya senang-senang aja. Hati-hati lo kamu !” cerca sang sopir.

Anggukan kepala sambil sesekali mengucap kata ‘ya’ terus terlontar dari mulut saya.

“Eh, kamu jangan lupa juga. Kamu disini juga musti bisa menjaga diri serta belajar yang serius. Kalau kamu lengah sedikit saja, kamu bakalan sulit menghadapi kehidupan di sini. Dan jangan pernah kamu terpikir buat enak-enakan di perantauan ! Namanya merantau, menuntut ilmu, jauh dari orang tua ya musti serius. Berapa uang yang musti orangtuamu keluarkan ? Banyak kan ?”

“Ya, Pak. ” angguk saya dengan semangat.

Perkuliahan yang sebenarnya belum dimulai. Namun, sejatinya kita semua sedang kuliah di sebuah Universitas yang selalu mengajarkan kita berbagai hal, dari siapa saja, dari kondisi bagaimanapun, dan dalam waktu tak terhingga. Kita memperoleh ilmu yang tak sekedar untuk kita aplikasikan dalam teori sains dan ilmu pengetahuan. Namun, ilmu yang kita dapat di universitas ini sangatlah luas.

Tak peduli sopir, tukang becak, pensiunan, tukang sapu, petugas keamanan, tukang becak, pedagang makanan, tukang parkir bahkan siapapun. Tak bisa dielakkan, jangan-jangan mereka lah dosen kita di universitas ini ? Tentunya, selain dosen dalam arti sebenarnya di universitas yang akan kita jumpa.

Ilmu yang luas tentang dinamika kehidupan yang tak bisa dijelaskan dengan rumus ataupun formula. Ilmu yang luas tentang bagaimana berjuang, berkorban, jatuh, bangkit, optimis, dan kesabaran.

Selamat datang di Universitas ini ….. Dosen kita bukan lagi yang berdasi, berpakaian rapi, penampilan intelek ! Dosen kita di Universitas ini bisa siapa saja. Bahkan orang yang kita anggap lebih rendah ‘pendidikan’nya dari kita. Inilah sebuah universitas yang tak pernah memberikan nilai berupa angka, melainkan nilai dalam kegigihan dan kesabaran.

Inilah UNIVERSITAS KEHIDUPAN……

Selamat datang kawanku satu juang dalam sebuah dimensi perkuliahan yang tak kenal batas, waktu, dan tempat.

Dialah….”UNIVERSITAS KEHIDUPAN’

Salam satu juang !!! Salam intelek muda !!!

Saya Najmi Wahyughifary

Fakultas Perjuangan Jurusan Kegigihan Universitas Kehidupan

 

About Najmi Wahyughifary

Make a better civilization

Posted on June 15, 2012, in Catatan Perjalanan, Karet Romantia, Tulisan, udahtaunanya. Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. mantepp… salam kenal🙂 Maba (mahasiswa baru 4 tahun) Fistek 08

  2. assalamu’alykum….. salam kenal…
    fighting fiisabilillah yoaa…🙂

  3. pembelajaran tidak dibatasi oleh dinding2 menjulang kampus
    pendidikan tidak sejauh mata memandang
    buka semua indera dan rasakan setiap gerak langkah kehidupan maka kau akan mulai belajar tentang ilmu kehidupan
    orang bisa menundukkan kepala karena ilmu yang menjulang bak langit
    tapi orang akan menunduk malu kala sadar ilmunya hanya secuil kecil

    selamat datang pejuang baru
    salam kenal
    nuklir 08

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: