Ketika Khitbah Menuai Masalah

Joko lagi asyik baca novel di dalam angkot Mitsubishi L300 (sering disebut Colt Mini) ketika Joni menegurnya.

“Oi, Ko. Lo bisa baca novel di angkot kayak gini?” tanya Joni.

“Bisa-bisa aja.” Sahut Joko singkat, tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang dia baca.

“Euh, aku sih nggak kuat baca buku di dalam angkot. Segini aja udah pusing. HWADUH!” Angkot itu melewati sebuah lubang di jalan raya dengan kecepatan lumayan tinggi, yang mengakibatkan Joni terlompat dari kursinya dan kepalanya membentur plafon mobil yang keras. “Astaghfirullah.. bang! Ati-ati dikit dong kalau jalan! Lobang gede kayak gitu jangan dilewatin pake kecepatan kayak dikejar polisi gitu! Bisa bahaya buat penumpang!” teriak Joni pada si supir.

“Iya Jang, maap!” sahut si sopir, masih berkutat dengan setir dan gearbox.

“Eh, lo baca novel apaan Ko?” tanya Joni lagi sambil mengusap-usap kepalanya yang kebentur.

“The Book of Codes.” Kata Joko sambil nunjukin sampulnya.

“Tentang apaan sih?”

“Pokoknya mah tentang misteri terselubung dibalik sistem ribawi yang menguasai dunia saat ini. Gw juga belum baca sampe beres, baru sebagian.” Joko masih nggak mengalihkan pandangannya dari buku itu. Kalau udah baca buku, Joko emang susah diganggu.

“Ah, susah ngomong sama lo kalau lagi baca buku.” Kata Joni sambil mendengus pelan.

Mobil sudah sampai di daerah Cigombong ketika Joni tiba-tiba teringat sesuatu.

“Eh, Ko. Masih inget nggak apa yang kita omongin waktu habis ifthar jama’iy di sekolah kemaren?”

Joko menutup bukunya sejenak dan menerawang. “Apaan yah? Kayaknya banyak deh yang kita omongin waktu itu.”

“Masalah si Wahyu itu loh. Kata Bang Rizki kan dia lagi bermasalah sekarang.”

“Wahyu? Sebentar.. oh iya, gw inget. Kalo gak salah waktu itu kepotong gara-gara bang Rizki ngajakin lo pulang bareng ya?”

“Nah, iya itu! Lo tahu nggak jalan persoalannya sebenernya kayak gimana?”

“Gw nggak yakin sih, waktu itu juga gw nggak dikasih tahu banyak. Malah gw baru tahu pas rapat itu. Kalo nggak salah.”

Joko menutup bukunya dan menerawang, coba nginget masalah yang terjadi dua tahun lalu itu.

***

Buku-buku materi pelajaran masih berceceran di kamar Joko, setelah diobrak abrik selama kurang lebih enam jam buat nyelesain tugas Fisika-nya. Sementara itu, yang punyanya malah asyik tiduran sambil dengerin nasyid Saujana, yang judulnya Suci Sekeping Hari. Joko paling suka nasyid yang itu, soalnya ngingetin bahwa yang namanya jalan perjuangan itu nggak gampang. Ada ujian yang datang melanda, ada perangkap menunggu mangsa. Begitu yang dikatakan dalam salah satu baik liriknya. Apalagi dalam perjuangan menegakkan kembali Islam di bumi ini. Setelah Khilafah terakhir di Turki dihancurkan oleh yahudi Inggris, Mustafa Kemal Attaturk, pada tahun 1924 kemarin, umat Islam sekarang bagai anak ayam yang kehilangan induknya. Tidak ada lagi institusi yang menerapkan syariat Islam secara total. Tidak ada lagi seorang Khalifah yang memimpin umat Islam, dan mengirim pasukan untuk membebaskan Palestina yang saat ini masih dicengkram oleh Zionis Israel. Tidak ada lagi yang melindungi ketika muslimah dilecehkan kehormarannya oleh orang-orang kafir. Joko menyadari, bahwa menegakkan kembali Khilafah itu merupakan kewajibannya dan seluruh umat Islam, agar kalimat Allah dapat kembali tegak di muka bumi ini. Dan perjuangan itu berat, sangat berat, sampai-sampai banyak yang gugur di tengah jalan. Joko nggak mau termasuk mereka yang gugur itu, maka dia selalu menyemangati dirinya sendiri.

“Mengharap senang dalam berjuang,

Bagai merindu rembulan di tengah siang,

Jalannya tak seindah sentuhan mata,

Pangkalnya jauh, ujungnya belum tiba”

Joko agak tergelitik mendengar kalimat kedua dari bait nasyid itu.

“Sebenarnya bulan bisa aja kelihatan di siang hari, tergantung dari posisinya di langit pada saat itu. Bahkan masih teriluminasi juga, meski hanya sebagian. Tapi mungkin ini perumpamaan aja kali yah, soalnya emang bulan itu biasanya muncul di malam hari. Ah, nasyid kok jadi disambungin sama astronomi begini sih?” gumam Joko.

Dia bangkit dan menatap seisi kamarnya yang berantakan oleh buku-buku pelajarannya. Nasib bersekolah di SMA unggulan, yang levelnya udah RSBI (Rintisan Sekolah Bertarif Internasional, soalnya SPP-nya lumayan nyekek dan tiap tahun pasti naik), pasti tugasnya numpuk. Minimal seminggu itu ada empat tugas yang harus diselesaikan, yang cukup untuk membuat para siswanya begadang seminggu penuh. Joko menghela nafas dan mulai membereskan buku-bukunya yang berceceran, sampai kemudian terdengar suara ringtone dari handphone-nya.

“I’ve tried so hard, and got so far,

But in the end, it doesn’t even matter”

Chorus dari lagu lama Linkin Park berjudul In The End berdering dari speaker handphone-nya. Joko juga mengoleksi lagu-lagu Barat, meski nggak banyak. Karena sepemahamannya musik itu mubah, selama tidak mengandung unsur-unsur yang dilarang syariat, Joko merasa nggak masalah mendengarkannya. Joko menaruh buku Fisika Untuk Kelas XI-nya di tumpukan paling atas buku paket dan kembali ke kasurnya, ngambil handphone. SMS masuk.

“Asw. Mohon untuk ikhwan DKM TM untuk hadir pada rapat DKM besok ba’da ashardan di masjid  TM lantai bawah. Karena penting, tolong diusahakan untuk datang. Syukran. Wsw.”

Dari Wahyu, ketua DKM TM, rohis SMA-nya Joko. Oleh kepengurusan sebelumnya, dia dipilih jadi ketua tanpa melalui proses voting, karena tidak ada lagi yang memenuhi kriteria untuk jadi ketua dibandingkan dirinya. Kepemimpinannya secara umum baik, tapi koordinasi dan komunikasi agak perlu diperhatikan.

“Rapat apaan lagi ya? Perasaan nggak ada agenda khusus dari DKM dalam waktu dekat. Apa buat ngebahas proker yang lain? Au ah, gelap. “ Joko menyimpan handphonenya di meja belajarnya dan kembali berbaring sejenak. Waktu udah nunjukin jam sepuluh lewat dua puluh tiga malam. Biasanya Joko tidur jam sepuluh, tapi kalau badai tugas menerjang, kadang jam dua pagi baru bisa tidur.

“Nggak ada tugas lagi yang belum beres. Tidur aja ah.” Gumam Joko. Dia mematikan laptopnya yang sejak jam delapan setia memutar nasyid pengantar ngerjain tugas dan langsung tertidur dalam waktu kurang dari dua menit dan nggak terganggu apapun lagi sampai tiba waktunya shalat tahajjud, sekitar satu jam sebelum adzan shubuh.

***

“Mau ngerapatin apa sih kira-kira?” tanya Joko pada Joni. Mereka berdua baru keluar dari kelasnya masing-masing dan berjalan menuju Masjid Ta’limul Muta’allim untuk shalat ashar. Hari itu hari Selasa, artinya jam pelajaran berakhir jam setengah empat sore.

“Nggak tahu. Gebyar Muharram kan udah lewat, evaluasinya juga udah.” Jawab Joni.

“Apa mau ngebahas proker baru?”

“Itu kan urusannya si Ramadhan. Proker kan urusannya sama OSIS. Ya Sekbid Satu yang harusnya ngusulin ide.”

“Ya bisa jadi buat angkatan berikutnya, gitu.”

“Reorganisasi masih lama. Lagian di SMS-nya juga nggak disebutin masalah proker atau apanya. Ah, Wahyu kadang-kadang suka misterius masalah beginian.”

“Iya juga sih ya.” Joko mengangguk pelan.

Mereka sampai di depan Masjid Ta’limul Muta’allim, masjidnya SMAN 1 Badak (nggak tahu kenapa Kecamatannya dinamain Badak, tanya aja sama camatnya). Lahan Smandak (panggilan singkat untuk SMAN 1 Badak) yang sempit menjadikan masjid ini memiliki dua lantai untuk mengantisipasinya. Lantai bawah untuk akhwat, lantai atas untuk ikhwan. Cuma ketika ada rapat DKM, shalat Jum’at, atau kegiatan-kegiatan tertentu saja masjid lantai bawah dimasuki ikhwan.

Mereka segera berwudhu dan naik ke lantai atas untuk shalat ashar berjama’ah. Selesai shalat, mereka mampir sejenak ke sekretariat DKM TM.

“Ah, ini dia orangnya. Assalamu’alaykum, Wahyu!” sapa Joko pada seorang ikhwan DKM yang mengenakan jaket biru tua.

“Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh. Eh, Joko. Joni juga ada. Kumaha, damang?” Wahyu menyapa balik Joko dan Joni sambil tersenyum. Tapi dari raut wajahnya, kelihatannya ada masalah dengannya.

“Alhamdulillah mumet. Ngerjain PR Fisika pak Solichin baru beres tadi malam, coba. Hahahah.” Jawab Joko.

“Mending elu, Ko. Gw aja belum beres sampe sekarang, padahal dikumpulin besok.” Sahut Joni.

“Ya sama, gw juga baru beresin semalem sebelum dikumpulin.”

“Kayaknya kita udah terbiasa sama sistem kebut semalam yah.” Timpal Wahyu. Ketiganya tertawa.

“Eh, mau rapat masalah apa sih? Tumben nggak ngasih tahu subyek rapatnya apaan.” Tanya Joko.

“Nanti aja liat.” Jawab Wahyu, ekspresinya kembali agak aneh “Ayo ke lantai bawah.” Lanjutnya sambil berlalu. Joko dan Joni bertatapan satu sama lain.

“Apa ada masalah sama orang luar? Kayaknya aku nggak bikin kontroversi apa-apa deh belakangan ini.” kata Joko pas lagi nurunin tangga.

“Mungkin. Ekspresi Wahyu nunjukin kalo ada masalah berkenaan dengan DKM. Atau berkenaan sama dia sendiri?”

“Au ah, liat aja nanti.”

Di depan pintu masjid lantai bawah, Ramadhan, Kurnia, Sukma, dan Graha udah nungguin. Nggak biasanya, soalnya ketiga orang itu justru yang biasanya telat.

“Oi, Pul. Tumben udah nongkrong disini? Biasanya suka telat datang.” Kata Joni.

“Aah, si Sukma tuh yang suka telat mah. Saya mah tepat waktu selalu atuh.” Jawab Ramadhan, yang memang punya hobi nyepet orang.

“Ah, bukannya kamu yang suka telat, Pul? Biasanya kamu makan batagor dulu di luar nih sama si Graha.” Timpal Sukma.

“Wes, sembarangan. Saya mah makannya Siomay bukan Batagor. Kalau si Graha sih iya, makan batagor. Batako goreng.” Kata Ramadhan dengan watados-nya seperti biasa.  Joko dan Kurnia tertawa pelan.

“Asem kau, Pul.” Sahut Graha sambil nyengir.

“Ayo masuk. Akhwatnya udah ngizinin.” Kata Wahyu memecah candaan. Mereka semua masuk ke dalam masjid lantai bawah.

Rapat dimulai dengan intermezzo biasa. Tapi permasalahan yang dibawa Wahyu bikin semua anggota DKM ikhwan bengong. Antara nggak ngerti, nggak percaya, dan yang sejenisnya.

“Ini menyangkut masalah saya dengan Maharani. Kasus ini sudah menyebar di luaran dan sebagian siswa sudah tahu. Maka saya mau meluruskan masalah ini.” kata Wahyu dengan suara rendah.

Di bagian akhwat yang terhalang oleh hijab berwarna hijau tua, terdengar suara bisik-bisik bernada kejengkelan.

“Ya, persoalan ini memang sudah tersebar di sebagian kalangan siswa. Bahkan sebagian besar jadi punya prasangka macam-macam terhadap antum. Coba jelaskan pada kita semua yang ada disini, sebenarnya gimana duduk persoalannya.” Sahut sebuah suara dari bagian akhwat, yang merupakan suara dari ketua keakhwatan DKM TM, Aster. Nadanya kedengaran tidak menyenangkan.

Wahyu terdiam sejenak. Matanya terpejam, kemudian dia menghela nafas dan memulai ceritanya.

Penjelasan Wahyu akan persoalan yang sedang menerpa DKM TM membuat anggota DKM Ikhwan dan sebagian Akhwat tambah bengong, nggak habis pikir. Kok bisa-bisanya mereka sampai nggak tahu? Dan kok bisa-bisanya Wahyu melakukan hal itu? Joko garuk-garuk kepala, mencoba menimbang-nimbang persoalan yang didengarnya itu.

“Jadi,” Aster buka suara. Nadanya makin tidak menyenangkan dan mengancam. “antum mengkhitbah Maharani melalui pesan itu. Ckckck, saya nggak pernah kepikiran kalau antum bisa sampai segitunya.”

“Ya. Saya melakukan itu bukannya tanpa dipikirkan dulu. Saya tahu karakter Maharani seperti apa. Saya sudah mengenalnya sejak lama, makanya saya berani mengkhitbahnya seperti itu. Saya kira tidak akan ada masalah, namun ternyata kenyataannya berbeda.” Suara Wahyu merendah.

“Aneh, masa’ antum tidak tahu bahwa itu bisa membawa masalah dan madharat besar bagi DKM ini? Kita ini masih tataran SMA, belum waktunya mengurusi hal yang seperti itu! Lagipula, bukankah sama saja cari masalah, mengkhitbah tapi baru menikahinya lama setelahnya?” kata Aster, semakin agresif.

Joko yang nggak seneng denger pernyataan Aster langsung mengnterupsi. “Maaf, darimana ceritanya melakukan khitbah bisa  membawa DKM TM ini pada madharat? Apa buktinya? Lagipula, memangnya kenapa kalau dalam tatanan SMA sudah berani melakukan khitbah? Bukankah itu jauh lebih JANTAN daripada para laki-laki pecundang yang cuma bisa nembak perempuan buat jad pacarnya?” tanya Joko dengan penekanan pada kata JANTAN.

Suara lain dari balik hijab ikut menimpali. Suaranya Putri. “Masalahnya begini loh, di luar sana ada yang bikin status di facebook. Dan status itu berpotensi bahaya yang besar buat DKM ini. Bunyinya kalautidak salah begini, “Lah! Ketua DKMnya aja udah kayak gitu! Gimana anggotanya??” Dan komentar-komentarnya menyudut pada persoalan kang Wahyu ini, bahkan sampai menghina DKM.”

Joko dan kawan-kawan kecuali Wahyu pada nambah bengong lagi. Sampai bocor keluar? Sampai dikatain seperti itu? Nggak ada yang nyangka persoalannya serumit ini.

“Jadi, masalahnya ada pada tersebarnya status itu. Siapa yang bikin status simplifikasi kurang ajar itu?” sambar Joko. Kadang-kadang dia memang tidak berminat mengpntrol kata-katanya kalau sudah emosi.

Sejenak ada bisik-bisik di kalangan akhwat, sampai pada akhirnya Putri kembali bersuara lagi. “Saya rasa tidak perlu diberitahu. Biar saja itu jadi urusannya, yang penting masalah disini dulu diselesaikan.”

“Kenapa nggak perlu dikasih tahu??” suara Joni menggelegar di seantero masjid lantai bawah. “ya kita-kita ini mau ngelurusin masalah sama si pembuat onar itu! gw paling nggak demen kalo dikatain kayak gitu, terlalu menggeneralisir dan kayaknya nggak tahu perkara tapi banyak omong!”

Hening beberapa saat ketika Joni menyelesaikan kalimatnya.

“Afwan, bisa dibuat lebih ahsan lagi bahasanya? Kita..”

“Gw orang Betawi asli, gw udah biasa ngomong gini. Elu-elu orang mungkin bilang ini bahasa kasar, tapi buat gw kagak.” Potong Joni sebelum Aster menyelesaikan kalimatnya. Aster nggak ngejawab lagi.

“Gw kagak ngarti jalan pikiran lu pada. Katanya mau beresin nih masalah, tapi pas ditanya siapa yang bikin status buat diklarifikasi masalah ini lu malah ngomong biar ini jadi urusan dia. Logikanya dikemanain sih?” lanjut Joni dengan tajam.

“Ya maksudnya kan supaya nggak makin berlarut-larut lagi di luar, yang penting..”

“SIAPA YANG NULIS STATUS ITU??!!”

Teriakan Joni mengagetkan seluruh peserta rapat. Biasanya Joni nggak pernah teriak sekeras itu bahkan di luar masjid sekalipun. Tapi kalau sudah bersikap kayak gitu, artinya dia nganggap yang diteriakinya udah ngelakuin hal yang bener-bener bego.

“Sudah, sudah. Tidak perlu jadi ribut lagi disini. Saya akui saya tidak menyangka sama sekali bahwa akan menjadi seperti ini persoalannya. Saya kira dia tidak akan memberitahu siapapun, setidaknya kalaupun memang ditolak, cukuplah hanya saya dan dia yang tahu.” Wahyu menyela.

“Allah juga tahu, loh.” Sambung Ramadhan.

“Iya, Allah juga. Maaf lupa.”

Setengah jam berikutnya suasana malah makin memanas. Ikhwan DKM tidak setuju bahwa Wahyu-lah pihak utama yang bersalah dalam kasus ini. Mereka menganggap, tidak ada yang salah dengan melakukan khitbah. Sementara akhwat DKM bersikeras, ini kesalahan Wahyu. Kalau Wahyu tidak pernah melakukan khitbah kepada Maharani, tentu kasus ini tidak akan terjadi. Debat makin memanas ketika Joko yang jengkel dengan sikap akhwat menantang para akhwat yang menyalahkan Wahyu untuk menunjukkan larangan melakukan khitbah bagi anak SMA ditinjau dari dalil syariat yang ada.

“Biar bagaimanapun, tindakan Wahyu untuk melakukan khitbah itu tidak dapat dibenarkan. Itu berbahaya bagi nama baiknya sendiri maupun nama baik organisasi ini, dan hasilnya bisa dilihat. Orang-orang banyak yang memandang DKM ini dengan sinis, persis seperti apa yang dilakukan oleh yang pertama kali menyebarkan berita itu.” kata Aster tegas.

Joko yang dati tadi ngedumel sendiri langsung nyamber.

“Kalau memang kalian segitu keras kepalanya nyalahin Wahyu atas kesalahan yang nggak dia lakuin, sekarang gw minta, tolong tunjukkin apa hukumnya melakukan khitbah bagi anak SMA? Mana dalil yang melarang anak SMA yang baru mau naik ke kelas XII untuk mengkhitbah seseorang? Mana? Tunjukkin, kalau emang beneran ada.” Kata Joko dengan nada menantang sekaligus jengkel.

Terdengar bisik-bisik di kalangan akhwat. Dari nada bicaranya, terdengar bahwa mereka tidak yakin dengan apa yang mereka bicarakan. Tapi setelah lewat lima menit, belum juga ada jawaban.

“Sudah beres diskusinya? Atau lagi nanya bang Gugel dulu?” sindir Joko sinis.

Terdengar keluhan bernada jengkel di bagian akhwat. Tapi sampai lima menit selanjutnya, masih belum ada jawaban.

“Yah, sepertinya memang sudah bisa ditebak, kalian tidak mampu menjawabnya. Wajar saja, lah..”

“Ini demi kemaslahatan bersama, baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk organisasi ini sendiri.” Sahut sebuah suara milik Rahayu.

“Maslahat? Oh well, apakah maslahat itu jadi hukum syara’?” tanya Joko.

Tidak ada jawaban, hanya bisik-bisik saja.

“Kalaulah maslahat bisa dijadikan hukum syara’, maka yang namanya Wine itu bakalan jadi halal. Kenapa? Ada maslahatnya, menghangatkan badan di saat dingin, bahkan ada yang bilang bisa jadi obat. Tapi apa ada yang kayak gitu? Nggak, Wine tetap Wine, khmr yang diharamkan. Kenapa? Dalilnya jelas,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Ini jadi dalil yang mengharamkan untuk minum segala macam khamr, mau ada maslahatnya mau kagak. Asas maslahat-mudharat nggak bisa jadi patokan hukum. Yang jadi patokan hukum itu jelas, al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ shahabat, dan qiyas ulama. Udah itu doang, nggak ada yang namanya asas manfaat. Asas itu cuma jadi dalih untuk melegitimasi perbuatan yang nggak ada landasannnya dalam hukum syariat.

Kalau masalah khitbah, itu kan metode yang digunakan oleh seorang muslim yang jantan –bukan banci- sebagai langkah awal mendapatkan pendamping hidupnya. Si akhwat itu dilamar dulu, lalu ta’aruf-an, baru nikah. Begitu kan yang kalian pahami juga? Kecuali kalau kalian membolehkan pacaran, mungkin ini bukan satu-satunya cara.” Di belakang terdengar Ramadhan dan Sukma tertawa kecil.

“Khitbah itu salah satu syariat dalam Islam, tepatnya dalam fiqih munakahat. Hukumnya apa? Wajib seorang wanita dilamar dulu sebelum dinikahi! Ini hukum wajib loh, dosa kalau ditinggalin. Secara fiqih udah jelas ketentuannya. Lantas darimana kalian bisa melarangnya??

Kalau kalian mau berdalih dengan alasan lain, yang sebenernya sama-sama aja sama asas maslahat, yaitu untuk menghindari fitnah dan sebagainya, terus gw mau nanya, lu orang menghukumi fakta atau menghukum-kan fakta? Fakta yang dihukumi oleh dalil atau fakta dijadiin hukum dan dalil? Lagian kemungkinan terjadinya fitnah itu juga nggak benar-benar kuat, cuman kebetulan aja kali ini lolos, di luar dugaan. Kalau kondisi lain? Belum tentu.

Kalau dilihat dari fakta yang dijelasin Wahyu dari tadi, gw nyimpulin kalo tindakannya itu nggak ada yang salah. Nggak bertentangan dengan aturan Islam. Dia cuma bilang bahwa dia ngelamar si Maharani, lewat SMS, yang ini juga sah-sah aja dilakukan. Nggak ada unsur khalwat, nggak ada unsur macam-macam lainnya. Ingat kalau ngobrol di SMS itu bukan khalwat, fakta yang dihukuminya beda.” Aster yang sudah bersiap menyela batal bicara. “Jadi setelah diketahui bahwa asas maslahat nggak bisa jadi patokan hukum, bahwa khitbah merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan untuk menikahi seseorang, dan mekanisme khitbah yang dilakukan oleh Wahyu, lantas alasan apa lagi yang mau kalian omongin buat nyalahin Wahyu? Masih ada? Coba jelasin kalo emang punya penjelasan lain.”

Kali ini bagian akhwat nggak ada bisik-bisik lagi. Cuma terdengar suara cekikikan kecil, yang sepertinya berasal dari akhwat yang nggak nyalahin Wahyu.

“Begitulah kalau cuma tarbiyah akhlak doang tanpa dibarengi dengan pemahaman yang benar terhadap syariat. Maslahat jadi landasan hukum, sementara nash-nash yang udah jelas malah ditinggalin.” Komentar Joni. Seluruh ikhwan kecuali Wahyu menahan tawanya.

“Yang jadi masalah itu justru di antara di Maharani atau si yang nyebarinnya itu. Gw nggak tahu apa si Maharani ngebocorin itu ke orang lalu kedengeran sama si penyebar status, atau dia yang ngomong langsung ke si penyebar status. Dan gw juga nggak tahu apa yang nyebarin statusnya itu tahu kejadian yang sebenernya gimana atau dia salah nangkep gara-gara si Maharani salah nyampein. Yang jelas, selama gw nggak tahu situasi aslinya gimana, kayaknya gw bisa bilang kalo yang salah itu justru si penyebar statusnya. Makanya gw nanya ke lu orang siapa yang nyebarinnya, biar gw lurusin. Eh, malah lu pada nggak ngejawab.” Kata Joni panas.

Suasana hening beberapa saat. Hujan yang turun beberapa saat setelah mereka mulai rapat tadi belum juga reda. Sekolah sudah sepi, seolah-olah tinggal mereka manusia yang tersisa di wilayah Smandak. Langit mulai menggelap, menandakan malam akan segera menjelang.

“Saya rasa sudah tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Sekali lagi, saya mohon maaf atas kesalahan saya ini..” Wahyu yang sejak tadi diam saja akhirnya membuka suara.

“Nggak perlu minta maaf, lu salah apa coba?” sahut Joko.

“Tidak apa-apa.” Kata Wahyu sambil tersenyum kecil. Wajahnya tidak terlalu depresi lagi, seolah sebagian bebannya sudah terangkat. “Kita tutup saja pertemuan kali ini. Sekali lagi..”

Rapat ditutup oleh Wahyu seolah-olah tidak pernah ada perdebatan-sengit-selama-sejam sebelumnya. Usai ditutup, Wahyu memeluk satu-persatu anggota DKM ikhwan yang hadir pada saat itu dengan sedikit terisak.

“Mohon maaf, saya jadi bawa masalah seperti ini ke DKM..” ucapnya lemah kepada Joko.

“Udah gw bilang, lo nggak salah apapun. Yang salah itu mereka yang nyalahin lo atas kesalahan yang nggak lo bikin.” Jawab Joko.

“Antum tahu jadi ketua itu berarti harus siap mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang terjadi atas DKM ini. Ana yang bermasalah, ana wajib tanggungjawab. Kalau anggota ana bermasalah, sekalipun dia yang wajib tanggungjawab, tapi institusi DKM juga akan kena. Kalau ana boleh memilih, ana pasti akan menolak ketika diamanahi jadi ketua DKM. Berat sekali, berat..”

“Yah, mungkin lo –dan kita semua- harus belajar sabar dan taktis ngadepin orang-orang nyebelin, entah itu di luar sana atau bahkan di dalam DKM itu sendiri.” Sahut Joni.

“In any case, lo tetep gak salah. Lo berani ngekhitbah, nggak sekadar ngajakin pacaran –yang cuma dilakuin para banci. Gw juga tahu lo itu orangnya bertanggungjawab atas segala omongan lo. Santai aja, nggak perlu mikirin mereka yang menjadikan maslahat sebagai landasan mereka bertindak. Kalo lo yakin itu bener menurut Islam, menurut apa yang Allah turunin, cukup. Nggak perlu ngedengerin omongan orang biar mereka ngoceh sampe bebusa juga.” kata Joko, menepuk bahu Wahyu.

“Syukran..” kata Wahyu. Senyumnya sedikit lebih lebar dari sebelumnya.

***

“Sekarang si Wahyu gimana ngajinya? Masih jalan?” tanya Joko, beberapa saat setelah tersadar dari kenangannya dua tahun yang lalu itu.

“Katanya mah udah nggak. Nggak jelas justrungannya, malah bang Opik bilang dia kesandung masalah pacaran.” Jawab Joni.

“Hah? Serius lo?”

“Kata bang Opik sih gitu. Makanya gw kuatir. Perasaan dari dulu sering banget ketua kesandung masalah beginian, yang ujung-ujungnya ngajinya berhenti. Sayang, padahal potensinya bagus.”

“Gw pikir sih emang dia agak rentan sama masalah perempuan.”

“Ah, kebanyakan orang kan emang gitu. Liat aja kemarin si Galuh juga kepleset. Untung dia balik lagi, masih ada kemauan.”

“Kalau udah kena kasus yang beginian, kayaknya emang agak susah juga buat terus konsisten. Perlu mental yang bener-bener kuat dan keseriusan tinggi. Komitmennya bagus, tapi kayaknya keseriusannya kurang deh.”

“Dan pada akhirnya, pecundang akan menyerah di tengah jalan.” Timpal Joni dingin.

Joko mendengus, menerawang ke langit-langit angkot yang mulai lapuk. Dia ngebayangin teman-teman seperjuangannya di SMA yang mulai menghilang karena kasus perempuan. Sedih juga, ngerasa kehilangan orang-orang yang biasa menemaninya dalam menyebarkan syiar Islam, demi tegaknya agama Allah di muka bumi ini. Komitmen, konsistensi, dan determinasi benar-benar mutlak diperlukan untuk bertahan dari badai yang menerpa. Seringkali dia juga agak nyayangin juga, bahwa nggak banyak usaha buat narik lagi mereka yang mundur biar maju lagi jadi penegak Islam.

“Tujuh puluh dua demi satu.” Gumam Joko.

“Apaan?” tanya Joni.

“Nggak.” Joni kembali membenamkan dirinya dalam novel yang belum dia beresin.

“Yee, dasar.”

“Lo kontak lagi deh si Wahyu. Gw nggak enak ngeliat temen kita pada mundur, dan gw pikir lo cocok buat ngajak dia lagi.”

“OK, gw sih nggak masalah. Cuman gw nggak ada nomor HPnya.”

“Nanti gw kasih.” Ujar Joko tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari novel.

Joni cuma geleng-geleng kepala ngeliat sobatnya yang gila novel ini.

**Yang nulis temen yang duduk disamping gue, Mas Raden Andhika Putra  Dwijayanto

About Najmi Wahyughifary

Make a better civilization

Posted on September 4, 2012, in El Kisah Uniek, udahtaunanya. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: