Cinta Cita Rasa ‘Akhirat’

wallpaper-1137372“Kita bahagia karena kita bisa membahagiakan orang lain.”

“Rumah kehidupan iman adalah rumah kehidupan yang membuat kita menikmati hidup di dalam dunia ini dengan cita rasa akhirat.”

Cerita ini  tentang suami istri yang diam di suatu kampung, yang diambil dari kisah nyata. Becerita tentang sepasang seuami suami istri shalih-shalihah. Pasangan ini menikah cukup lama. Tahun demi tahun dilalui mereka bersama-sama. Sang istri yang shalihah yang senantiasa melayani sang suami yang shalih.

Waktu terus berjalan , seperti kita ketahui kehidupan masyarakat di kampung ketika ada suami istri yang tidak memiliki keturunan itu akan menjadi pembicaraan warga. Mereka terus bersabar dengan pembicaraan ditengah-tengah warga ini. Lambat laun mereka terus bersabar. Namun lama-kelamaan, pembicaraan di tengah warga semakin menjadi-jadi.
5 tahun sudah pasangan ini belum juga dikaruniai buah hati

Kesabaran mereka pun terus di uji, sang suami begitu tenang dan sabar. Akhirnya mereka memutuskan pergi ke dokter untuk mencek kesehatan masing-masing.
Lalu setelah di cek, suami berhadapan dengan dokternya. Lalu dokter itu berkata:

“Kesehatan anda baik-baik saja, tidak ada yang salah dengan anda.”

“Anda tidak ada masaah berdasarkan cek hasil lab, istri anda yang mungkin bermasalah.”, tambah lagi dokter.
Lalu, sebelum dokter memberikan hasil lab kepada istrinya juga. Sang suami meminta dokter untuk bilang kepada istrinya bahwa kalo istrinya tidak mengalami gangguan kesehatan apa-apa. Dan memaksa dokter untuk bilang ke istrinya bahwa dialah yang mengalami gangguan.

“Saya tidak mau istri saya tahu akan masalah ini, saya tak mau dia sedih, kecewa dan tertekan. Bilang saja ke dia bahwa saya lah yang mengalami kelainan, dok.” desak sang suami.
Awalnya dokter tidak mau menerima permintaan sang suami karena hal tersebut melanggar kode etik dokter. Namun sang suami terus memaksa sang dokter, dokter pun mau tak mau harus meng’iya’kan. Lalu akhirnya hasil pemeriksaan lab pun diberitahukan kepada sang istri.

Sang istri merasa lega dan tenang bahwa dia tidak mengalami kelainan atau gangguan apa-apa. Sang dokter berujar bahwa sang suami lah yang mengalami gangguan dan kelainan. Sang istri shock, kecewa, marah, dan tertekan.

Hari-haripun berlalu. Hari-hari pasangan suami istri dilalui dengan keluh kesah si istri,
si istri sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit kesal dan sang suami. Situasi rumah tangga pun makin kacau, belum lagi pembicaraan orang-orang diluar tentang suaminya yang berdasar hasil lab tidak mampu memberikan keturunan.  Sang suami tetap sabar dan mencoba menenangkan sang istri dengan cobaan yang Allah berikan.
“Ini cobaan yang Allah berikan kepada kita dalam perjalanan hidup kita berdua.”
Sang istri melalui hari-harinya dengan jengkel. Disatu sisi orang-orang membicarakan tentang keshalihahan sang istri yang setia dengan sang suami yang ‘tidak mampu memberikan keturunan’. Namun disisi lain orang-orang membicarakan tentang pasangan suami istri ini yang kunjung tak mempunyai keturunan.

5 tahun lebih sudah perjalanan bahtera rumah tangga suami istri ini berjalan tanpa dikasih satupun keturunan

Kemudian sang istri pun amat marah dan kecewa. Hingga akhirnya sang istri pun berucap:

“Mas, saya sudah tidak tahan lagi seperti ini. Mas gak bisa memberikan saya keturunan. Saya sebagai wanita juga ingin mempunyai anak yang lahir dari rahim saya.”

Sang suami hanya bisa tertunduk, sabar dan berdoa.
“Saya sudah tidak tahan lagi bersama menemani mas tanpa dikasih satupun keturunan.”, timpal sang istri

Lalu sang suami mencoba untuk menenangkan, “Sabar, ini cobaan dari Allah, musti kita hadapi dengan tawakal dan doa kepada Allah.”
“Sudah, mas. Saya sudah gak tahan lagi.”, sahut sang istri

Sang suami kembali mencoba menen angkan,”Sabar. Ini cobaan yang Allah berikan kepada kita untuk meningkatkan derajat kita.”
“Sudah !!! Ceraikan saya !!! Mas gak bisa memberikan keturunan untuk saya. Saya ingin menikah dengan laki-laki lain yang bisa memberikan keturunan dan kebahagiaan.”, ucap sang istri.
Sang suami selalu mencoba menenangkan sang istri…

“Sabar, mi. Ini cobaan yang Allah berikan kepada kita untuk meningkatkan derajat keimanan kita.”
Si istri menyahut,  “Sudah !!!! Saya gak butuh ceramah dari mas !!! Saya butuh cerai
“Ceraikan saya !!! ”
Sang suami terus membujuk dan mencoba menenangkan si istri
Akhirnya sang istri berujar….
“Saya berikan waktu 1 tahun, seandainya mas tidak bisa memberikan saya keturunan. Ceraikan saya !!!”

Lalu, sang suami hanya bisa bersabar dan menyerahkan masalah hanya kepada Allah, berdoa dan meminta kepada Allah diberikan kemudahan dan jalan keluar akan permasalahan ini.
Bukannnya jalan keluar yang didapat, si istri jatuh sakit. Si istri mengalami gagal ginjal, kedua ginjalnya rusak dan harus menjalani proses pencangkokan ginjal. Di saat yang kritis dimana sang istri mengalami penyakit gagal ginjal dan harus dirawat dirumah sakit, sang suami malah izin kepada istrinya untuk pergi selama 3 hari. Tak pelak, sang istri kesal dan kecewa, melihat tingkah sang suami yang tidak bertanggung jawab seperti ini. Tetapi, ternyata sang suami mendatangi dokter dan menyatakan bahwa ginjalnya siap untuk dicangkokkan ke istrinya, tapi dengan syarat tidak ada yang tahu satupun bahkan istrinya sendiri bahwa yang mencangkokkan ginjal tersebut adalah dia, sang suami.

Akhirnya sang istri terselamatkan. Dengan setia sang suami menemani si istri yang masih sakit pasca terkena penyakit gagal ginjal. Sang istri masih kesal dan marah kepada sang suami. Hari-hari pun dilalui dengan rasa jengkel kepada sang suami karna kunjung tak memberikan keturunan. Sang suami tetap setia dan sabar melayani sang istri, keluh kesah sang istri. Hingga akhirnya, di tahun ke-9 perjalanan pasangan ini, Allah memberikan keajaibannya. Sang istri akhirnya hamil. Kedua suami istri ini pun dirundung kebahagiaaan yang tak terbendung. Dengan segera, sang istri diperiksa ke dokter.

Sungguh mengejutkan, sang dokter tak percaya dengan apa yang terjadi. Sungguh luar biasa karunia dan kekuasaan Allah. Akhirnya lahir lah sang buah hati yang amat dinanti selama perjalanan bahtera rumah tangga suami istri shaleh-shalehah ini. Kesabaran, pengorbanan, ketenangan, dan doa sang suami yang begitu kuat akhirnya berbalas manis.
Kehidupan keluarga ini semakin bahagia dengan pelengkap sang buah hati. Lalu, sekitar 3 tahun kemudian pasca kelahiran sang buah hati, sang suami mendapatkan tugas ke luar kota. Ketika baru saja sampai di kota tempat ia bertugas, sang suami lupa bahwa catatan hariannya tertinggal di atas meja tamu dirumah. Catatan harian itupun akhirnya ditemukan sang istri. Dia buka catatan itu. Dia lihat tulisan-tulisan yang berisi tentang kejadian-kejadian masa lalu, dimana momen penting yang telah mereka lewati selama bahtera perjalanan pernikahan mereka. Sang istri tak percaya dengan apa yang ia baca.
Dia tak percaya dengan apa yang telah terjadi selama ini. Tak percaya dengan pengorbanan yang dilakukan sang suami yang begitu sabar dan tenangnya. Hingga isak tangis pun membasahi pipinya.

Dia telpon suaminya, dia menangis dan meminta maaf dan ampun kepada suaminya.
Sang istri pun sujud di kaki sang suami, namun sang suami mencegah dan sigap mengangkat dan membangunkan sang istri. Sang istri menangis terisak. Sang istri memohon ampun dan maaf kepada sang suami. Sang suami hanya bisa tertunduk. Dia tak menyangka entah kenapa catatan hariannya itu yang mana tak ada satupun orang yang tau tertinggal dirumah saat dia di luar kota Sang istri terus menangis dan meminta maaf kepada sang suami yang begitu luar biasanya, selama bertahun-tahun setia, sabar dan penuh pengorbanan kepada dia. Yang bahkan tak mau mengungkit-ungkit pengorbanannya kepada istrinya yang sengaja sang suami tutup rapat-rapat.

Akhirnya sang suami hanya bisa termenung.
“Memang semua ini adalah rencana Allah yang begitu indah tanpa di duga-duga.”
SUBHANALLAH

Allah telah merencanakan sebuah skenario yang indah untuk pasangan suami-istri ini. Inilah kisah nyata buah cinta ‘cita rasa akhirat’. Ketika kesabaran dan kekhusyukan diri dalam menjaga kekokohan iman, cerita seorang suami yang begitu luar biasa.

Nampak, seperti dongeng bagi kita. Awalnya, aku juga tersentuh ketika mendengar cerita penutup ceramah dari Ustadz Syatori Abdur Rauf malam tadi yang bertemakan ‘Kehidupan Cita Rasa Akhirat’. Ketika mengetik bait-bait cerita ini pun, sungguh tekanan batin yang luar biasa. Menceritakan kembali cerita nan dahsyat yang ku dengar .

“Kita bahagia karena kita bisa membahagiakan orang lain.”

“Rumah kehidupan iman adalah rumah kehidupan yang membuat kita menikmati hidup di dalam dunia ini dengan cita rasa akhirat.”

Bayangkan sekarang bagaimanakah keluarga itu saat ini ? Mereka bahagia karena manisnya iman. Subhanallah.

Rabu, 26 November 2012/ 14 Safar 1434 H , ba’da isya. Masjid Pogung Dalangan, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Ku ketik keluh kesahku di benak, ku tuang dalam catatan kusam yang tersedia di handphone-ku, kemudian ku baitkan kembali dalam ketikan cerita panjang di laptop tua yang setia bersamaku. Di sebuah ruang sempit 2×3 meter nan nyaman dan sejuk bagiku.

Najmi Wahyu Ghifary. Tepat di gubuk kecilku di Desa Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta

 

About Najmi Wahyughifary

Make a better civilization

Posted on December 27, 2012, in udahtaunanya. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: